Surplus Neraca Perdagangan Diramal Berlanjut hingga Akhir Tahun

    Media Indonesia.com - 07 Oktober 2021 10:22 WIB
    Surplus Neraca Perdagangan Diramal Berlanjut hingga Akhir Tahun
    Ilustrasi bendera Indonesia - - Foto: dok AFP



    Jakarta: Neraca perdagangan Indonesia yang terus menerus mencatatkan surplus, membawa angin segar bagi perbaikan ekonomi nasional. Apalagi, hal ini terjadi di tengah kondisi yang tak normal akibat pandemi.

    Mulai pulihnya sejumlah sektor usaha yang berorientasi ekspor menjadi katalis positif surplusnya neraca perdagangan Indonesia yang cukup agresif. Berbagai pihak mengapresiasi upaya Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang diyakini membuat tren akan terus berlanjut.

     



    "Kalau berdasarkan data BPS, ekspor kita mengalami surplus ketika masa pandemi ini sudah mulai berangsur-angsur berkurang khususnya di bidang farm oil dan dan juga beberapa kebutuhan lainnya. Memang tidak sebagus sebelum pandemi, tetapi jika dibandingkan dengan negara lain, itu sudah bagus," kata Anggota Komisi VI DPR Achmad Baidowi, dikutip Kamis, 7 Oktober 2021.

    Baidowi menambahkan, kinerja ekspor yang terus tumbuh menopang cukup signifikan pertumbuhan ekonomi. Ia mencatat, kontribusi ekspor terhadap total ekonomi Indonesia (PDB) mencapai 17 persen berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia Agustus 2021 tercatat mencapai USD4,74 miliar, tertinggi sejak Desember 2006.

    Surplus di Agustus 2021 merupakan surplus neraca perdagangan Indonesia ke 16 secara beruntun sejak Mei 2020. Neraca perdagangan Indonesia pada Januari-Agustus 2021 tercatat surplus USD19,17 miliar. Nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama pada 2020 sebesar USD10,96 miliar. Bahkan tertinggi dibandingkan dalam lima tahun terakhir.

    Catatan saja, surplus dagang sepanjang 2020 tercatat sebesar USD21,74 miliar. Dengan waktu yang masih tersisa 4 bulan lagi, sangat besar terbuka peluang, surplus tahun ini bakal melampaui capaian 2020.

    Tiongkok dan AS jadi negara tujuan ekspor utama

    Ia menilai, pemulihan permintaan di negara tujuan ekspor utama yakni Tiongkok dan AS jadi momentum kenaikan ekspor Indonesia. Belum lagi, harga komoditas ekspor khususnya perkebunan kelapa sawit (CPO) dan pertambangan terus membaik.

    "Ekspor kelapa sawit naik 45,3 persen sepanjang Januari-Maret 2021. Ekspor batubara naik 8,4 persen di periode yang sama. sektor pertambangan yang mengalami penurunan tajam pada 2020 diperkirakan tahun ini juga mulai tumbuh positif," jelas Baidowi.

    Selain itu, industri manufaktur tercatat sudah membaik dengan indikator Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang mencapai 53,2 pada Maret 2021. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menjelaskan, jika PMI sudah berada di atas angka 50, artinya perusahaan mulai ekspansi dengan membeli bahan baku yang lebih banyak.

    Melihat semua parameter tersebut, ia menilai target pertumbuhan ekonomi versi pemerintah sebesar 7 persen, seperti pada kuartal kedua 2021, sangat rasional dan berpotensi besar tercapai.

    "Dengan catatan, vaksinasi berjalan lancar sesuai target. Belanja pemerintah juga tetap konsisten membantu sektor usaha dan masyarakat yang rentan. Kemudian, kinerja ekspor membaik dan industri manufaktur masuk pada fase ekspansi," jelasnya.

    Surplus neraca dagang di bawah Menteri Lutfi

    Di sisi pelaku ekonomi, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menyatakan sepakat dengan keyakinan Kemendag terkait surplusnya neraca perdagangan.

    Dia mendukung optimisme Kementerian di bawah pimpinan Menteri Muhammad Lutfi itu. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga memperkirakan surplus neraca dagang Indonesia pada tahun ini akan melampaui realisasi pada tahun lalu.

    Artinya, nilai surplus diproyeksi bakal lebih dari USD21,73 miliar yang merupakan realisasi pada Januari-Desember 2020. Proyeksi ini berasal dari realisasi surplus dagang Indonesia yang sudah mencapai USD19,17 miliar pada Januari-Agustus 2021.

    "Optimistis, harus bisa. Karena potensi kesempatannya ada. Jadi di Indonesia dianggap mata dunia makin baik reputasinya dari sisi delivery, harga mulai kompetitif, kualitas juga bagus," cetus Haryadi.

    Hariyadi tak segan mengapresiasi sejumlah langkah yang dilakukan Menteri Muhammad Lutfi dan jajarannya di tengah situasi yang tidak normal. "Menurut saya bagus ya, karena situasinya betul-betul tidak normal. Apapun yang dilakukan dengan situasi tidak normal itu, tentu tingkat kesulitannya tinggi," ucapnya.

    Ia menambahkan, selain faktor-faktor di atas, Indonesia sejatinya juga diuntungkan dengan situasi perdagangan Amerika dan TIongkok dan negara-negara lain yang sibuk dengan urusan penanganan covid-19. Ia melihat, semua peluang ini dilihatnya dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah.

    Hanya saja, ia menyarankan pemerintah tak cepat puas. Ia menuturkan, penetrasi pasar ASEAN saja masih terbuka lebar untuk ditingkatkan. Begitu juga pasar Australia yang sudah memiliki perjanjian perdagangan dengan Indonesia. Adapun Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Benny Soetrisno menuturkan, lonjakan perdagangan yang terjadi saat ini, berbanding lurus dengan penurunan kasus covid-19 yang juga diupayakan oleh pemerintah.

    "Dukungan Pemerintah terhadap Dunia usaha sudah banyak melalui program Dana Pemulihan Ekonomi Nasional PEN) termasuk terhadap UMKM," pungkas Benny.

    Selain pembenahan di dalam negeri, kinerja ekspor yang melonjak sebenarnya juga tak terlepas dari hasil diplomasi dan pembukaan akses perdagangan. Benny membenarkan, salah satu alasan melonjaknya kinerja ekspor Indonesia adalah karena terbukanya akses pasar ke beberapa negara tujuan ekspor non-tradisional.
     
    "Kemendag membuka akses pasar ekspor ke beberapa negara nontradisional, di antaranya Afrika, Eropa tengah, dan Amerika Selatan, sehingga terjadi lonjakan ekspor," kata Benny.

    Sementara, ekonom Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty berpendapat senada. Optimisme Kemendag tersebut sangat beralasan. "Saya setuju dengan pernyataan kemendag yang optimis neraca perdagangan 2021 tetap positif. Sangat realistis karena surplus perdagangan ini terkait naiknya harga komoditas, dan volume ekspor juga meningkat," ujarnya.

    Associate Professor FEB UI ini mengatakan, sejumlah faktor mendukung surplus perdagangan ini, antara lain faktor pandemi. Pasalnya, komoditas global yang biasanya lancar, terkendala karena pandemi covid-19.

    "Permintaan meningkat di bidang energi dan komoditas makanan minuman, sehingga ini menjadi semacam bless in disguise (berkah dalam kesusahan), di lain pihak, karena PPKM, impor kita turun drastis, jadi ini campur, ada promosi ekspor oleh pemerintah, ada faktor global," pungkasnya.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id