Perkuat Sektor Pertanian, Kunci Sukses Selandia Baru Lawan Covid-19

    Gervin Nathaniel Purba - 20 Juni 2020 23:42 WIB
    Perkuat Sektor Pertanian, Kunci Sukses Selandia Baru Lawan Covid-19
    Ilustrasi. Saat ini, Selandia Baru fokus pada industri susu, daging, dan hortikultura. (Foto: AFP/William West)
    Jakarta: Selandia Baru tergolong sukses dalam menghadapi pandemi covid-19. Kesuksesan tersebut membuat Selandia Baru mendapat banyak pujian dari berbagai pihak.

    Tentunya kita semua menjadi penasaran bagaimana cara Selandia Baru mengatasinya. Pada diskusi virtual The 2nd International Webinar, The Indonesia New Zealand Partnership: Definung A Strategy For Indonesia Resilience And Recovery To Covid-19 Through Agriculture And Horticulture yang diselenggarakan Kementerian Pertanian (Kementan), Selandia Baru memaparkan kunci kesuksesannya.

    Webinar itu dihadiri Guru Besar dari Universitas Massey Selandia Baru, yatu Julian Heyes dan Janet Reid. Hadir juga Duta Besar Indonesia di Selandia Baru, Samoa dan Tonga Tantowi Yahya. Lalu, perwakilan dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Selandia Baru Jack Lee.

    Pemerintah Selandia Baru memberikan perhatian cukup besar terhadap sektor pertanian selama pandemi covid-19 dengan menyiapkan aturan penyediaan stok pangan. Terutama komoditas lokal.

    Aturan tersebut meningkatkan mobilisasi logistik pangan serta memperpendek rantai distribusi logistik pangan, sehingga petani di Selandia Baru tidak mengalami kesulitan dalam memasarkan produk pertanian.

    Di sisi lain, masyarakat Selandia Baru mudah dalam mencukupi kebutuhan pangan mereka. Selain itu, juga terjadi kolaborasi harmonis antar pengambil kebijakan (pemerintah dan parlemen), media massa, kelompok industri utama industri pangan, dan kelompok masyarakat.

    Jack Lee, perwakilan dari Kemenperin Selandia Baru menjelaskan, dalam sistem pertanian Selandia Baru yang bersifat keluarga, pertanian dijalankan secara maju, mandiri, dan modern.

    Hasil produk pertanian, diekspor ke luar negeri melalui kerja sama dengan 23 anggota Word Trade Organization (WTO), di antaranya Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, dan Laos.

    "Selandia Baru saat ini fokus pada pengembangan indusri pertanian. Salah satunya adalah industri susu, daging, dan hortikultura. Tiga komoditas ini merupakan komoditas ekspor dengan pola adaptasi terhadap covid-19," ujar Lee, dikutip keterangan tertulis, Sabtu, 20 Juni 2020.

    Bagaimana dengan Indonesia?

    Sejauh ini, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya pencegahan penyebaran covid-19. Salah satunya, penyediaan pangan bagi masyarakat.

    Kebijakan yang diterapkan dalam menghadapi covid-19, yaitu program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

    Dalam program pangka pendek, Kementan menerapkan jaring pengaman sosial (sosial safety net) dan program padat karya dengan terus berproduksi bagi penyediaan pangan 267 orang penduduk Indonesia.

    Pada program jangka menengah, Kementan menerapkan kebijakan Kostratani dalam penyediaan pangan untuk 267 juta jiwa penduduk Indonesia. Lalu mendorong peningkatan kesejahteraan petani serta peningkatan ekspor.

    "Sedangkan untuk jangka panjang, Kementan mengimplementasikan kebijakan regenerasi petani untuk mengamankan pembangunan pertanian," ujar Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi.

    Selain itu, Kementan melakukan monitoring kesiapan percepatan tanam musim tanam 2020. Utamanya adalah pengolahan lahan untuk pertanaman, penyiapan benih dan pupuk, sarana prasarana, pembiayaan pertanian melalui kredit usaha rakyat (KUR), dan operasionalisasi alat mesin pertanian (alsintan).

    Pandemi covid-19 memberikan pelajaran berharga dalam penyediaan stok pangan, serta menguji sistem ketahanan pangan dari hulu hingga hilir.

    Pelaksanaan webinar tersebut mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo.
    “Sharing strategi penguatan ketahanan pangan diperlukan, sebab melihat pentingnya sektor pertanian bagi perekomian negara,” kata Mentan Syahrul.

    Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Idha Widi Arsanti mengatakan, baik Indonesia maupun Selandia Baru menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu penyumbang produk domestik bruto (PDB) bagi kedua negara.

    Berdasarkan data BPS pada 2019, sektor pertanian merupakan kontributor terbesar ekonomi Indonesia setelah sektor industri (13,45 persen).

    Sementara di Selandia Baru pada 2018, sektor pertanian menyumbang NZ$12,4 miliar untuk PDB Selandia Baru. Pada 2019, sektor industri primer Selandia Baru membukukan rekor nilai ekspor sebanyak NZ$46,4 miliar.



    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id