PLN Ikut Rasakan Penurunan Harga Gas Industri

    Suci Sedya Utami - 18 Maret 2020 18:21 WIB
    PLN Ikut Rasakan Penurunan Harga Gas Industri
    Illustrasi. MI/Irfan.
    Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penurunan harga gas untuk industri sesuai Perpres 40 Tahun 2016 yang mulai diberlakukan pada 1 April 2020, juga akan dirasakan oleh PT PLN (Persero).

    Pasalnya dalam Perpres tersebut disebutkan hanya tujuh industri yang mendapatkan harga gas USD6 per million british thermal unit (MMBTU), di antaranya pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik kaca dan sarung tangan karet.

    Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan penurunan harga gas tersebut juga diterapkan untuk sektor kelistrikan dalam rangka menyediakan listrik yang terjangkau bagi masyrakat dan mendukung pertumbuhan industri. Arifin memastikan penambahan sektor kelistrikan tidak akan berpengaruh signifikan bagi keuangan negara.

    "Penurunan harga gas untuk industri termasuk pupuk dan PLN tidak menambah beban keuangan negara," kata Arifin, Rabu, 18 Maret 2020.

    Ia tidak menampik jika bakal terdapat pengurangan penerimaan pemerintah di hulu migas. Namun, terdapat tambahan pendapatan pemerintah dari pajak dan dan deviden, penghematan subsidi listrik, pupuk dan kompensasi PLN, serta terdapat penghematan karena konversi pembangkit listrik dari diesel ke gas.

    Kementerian ESDM pun telah mengkalkulasi penurunan harga gas menjadi USD6 per MMBTU untuk pembangkit akan menciptakan penghamatan bagi PT PLN (PLN) dan ujungnya berdampak positrif bagi negara.

    Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan di tahun ini harga gas untuk pembangkit diasumsikan dengan harga USD8,39 per MMBTU. Ia bilang jika diturunkan menjadi USD6 per MMBTU maka akan ada penghematan sebesar USD2,39 per MMBBTU dikalikan dengan volume gas yang dibutuhkan pembangkit.

    "Kalau dari sisi hilirnya, PLN jelas saving. Savingnya jadi Rp18,58 triliun datang dari subsidi Rp4,38 triliun dan kompensasi Rp14,2 triliun," kata Rida.

    Rida menjelaskan biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik dalam anggaran belanja PLN 2020 sebesar Rp359,03 triliun. Dari jumlah tersebut sebesar 41 persen atau Rp146,67 triliun dialokasikan untuk biaya bahan bakar.

    Dari besaran biaya bahan bakar, gas menjadi komponen bahan bakar terbesar dalam pembentukan BPP. Dia menyebutkan porsi gas sebesar Rp60,98 triliun atau 38,36 persen dari total biaya bahan bakar. Dibandingkan dengan bahan bakar lainnya seperti baru bara sebesar Rp56,26 triliun, BBM dan BBN sebesar Rp24,17 triliun dan energi baru terbarukan sebesar Rp5,24 triliun.

    Namun, kata Rida, kendati menjadi komponen biaya terbesar, jumlah volume atau kapasitas listrik yang dihasilkan dari hasil pembangkit gas hanya 65,24 terawatt hours (Twh) atau sekitar 21,28 persen dari total volume penyediaan tenaga listrik. Masih lebih kecil dibandingkan dengan volume yang dihasilkan pembangkit batu bara sebesar 187,52 TWh.

    "Maka turunnya harga gas akan sangat berpengaruh pada besaran BPP yang pada ujungnya akan mengurangi beban APBN (subsidi dan kompensasi)," ujar Rida.

    Adapun BPP merupakan salah satu komponen untuk pembentukan tarif listrik yang berlaku bagi konsumen. Makin rendah BPP, maka tarif listrik juga akan makin murah.

    Selain itu kata dia, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas)  telah membuat simulasi perbandingan antara penghematan yang didapat dan penurunan penerimaan negara dari harga gas untuk pembangkit listrik. Ia menyebut jika penghematan bisa mencapai Rp18,58 triliun, sementara penurunan penerimaan negara sebesar Rp14,07 triliun.

    Artinya negara pun masih mendapatkan manfaat atau keuntungan sebesar Rp4,51 triliun.
     



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id