Keuangan Industri Manufaktur RI Diuji Virus Korona

    Ilham wibowo - 24 Maret 2020 15:35 WIB
    Keuangan Industri Manufaktur RI Diuji Virus Korona
    Ilustrasi (MI/MOHAMAD IRFAN)
    Jakarta: Kondisi keuangan perusahaan di sektor industri manufaktur saat ini menghadapi tantangan berat dihadapkan dengan virus korona baru atau covid-19.

    Belum jelas kapan wabah ini akan berakhir. Hal ini dinilai sangat menghambat proyeksi pertumbuhan terutama di sisi arus kas atau cash flow.

    Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia Sanny Iskandar mengatakan kondisi terburuk pasti bakal dialami perusahaan dengan kondisi kecukupan modal yang kurang memadai. Apalagi masa tanggap darurat wabah dari Pemerintah berlangsung cukup lama yakni hingga Mei 2020.

    "Kemungkinan tutup kalau ditanya itu pasti ada, meskipun kita tidak berharap karena ketahanan masing masing perusahan beda-beda," kata Sanny kepada Medcom.id, Selasa, 24 Maret 2020.

    Stimulus fiskal yang bakal diberikan Pemerintah untuk sektor industri manufaktur dinilai tak akan cukup untuk dimanfaatkan oleh seluruh pelaku industri. Beberapa perusahaan dipastikan sulit untuk menghindar dari kebangkrutan lantaran memikul beban produksi dengan pasar yang menyempit lantaran virus korona.

    "Kondisi normal saja ada perusahaan yang susah bertahan apalagi kondisi seperti ini," ungkapnya.

    Biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menambal operasional selama masa darurat ini cukup besar. Menurut Sanny, mereka yang terdampak saat ini tengah mengupayakan pinjaman modal agar minimal tetap bertahan hingga penanganan wabah selesai.

    "Memang namanya juga musibah dan perusahaan kondisi keuangannya beda-beda. Satu sisi kita memikirkan karyawan tapi di sisi lain juga beberapa perusahaan sulit bernafas juga karena cash flow dan segala macam, orderan juga sudah praktis tidak ada," ungkap Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia ini.

    Sunny menambahkan bahwa kesulitan cash flow yang dihadapi pelaku usaha industri manufaktur tidak akan dilimpahkan langsung kepada karyawan terutama jaminan hak kesehatan dan kesejahteraan. Hal ini termasuk kewajiban perusahaan dalam memberikan tunjangan hari raya (THR) dalam waktu dekat.

    "THR ini memang sama seperti gaji bulanan dan sudah dianggarkan, masing-masing perushaan punya kebijakan sendiri-sendiri, yang jelas dalam situasi seperti ini semua anggaran dan segala macam harus direvisi semua," tuturnya.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id