Penting bagi Pelaku Usaha untuk Mendaftarkan Merek Dagang

    Ade Hapsari Lestarini - 22 Februari 2021 20:56 WIB
    Penting bagi Pelaku Usaha untuk Mendaftarkan Merek Dagang
    Foto: Grafis Medcom.id
    Jakarta: Pendaftaran suatu merek merupakan aspek penting bagi para pemilik merek dagang. Selain untuk memperoleh kekuatan hukum, juga agar merek tersebut diakui keberadaannya oleh konsumen.

    Pemilik produk sering kali memberi merek untuk membedakan produknya dengan penggunaan kalimat dan atau kata yang mencerminkan asosiasi yang tinggi pada produk tersebut. Baik secara bentuk, fungsi, maupun kualitasnya. Tujuannya agar mempermudah konsumen dalam menentukan produk yang akan dikonsumsi.

    Pada era perdagangan bebas, dan konektivitas rantai pasok global menjadikan banyak ditemukan jasa dan/atau produk yang menggunakan suatu merek, yang menggunakan unsur-unsur kata atau kalimat yang hampir serupa antara satu sama lainnya. Akibatnya, tidak saja berpotensi menimbulkan konflik di antara pemilik merek tersebut, tetapi juga berpotensi menimbulkan kebingungan bagi konsumen dari jasa dan/atau produk tersebut.

    Selain pada aspek konsumen, perhatian juga harus diberikan kepada para pelaku dunia usaha baik dalam dan luar negri yang berada di wilayah hukum Republik Indonesia yang kian menggeliat yang secara langsung memerlukan iklim usaha yang kondusif dan yang terpenting kepastian hukum dalam menjalankan aktivitas serta pengembangan investasinya di Tanah Air.

    Ketua Institut Pandya Astagina Suwantin Oemar mencontohkan di luar negeri terjadi kasus sebuah perusahaan food and beverages asal India menggugat perusahaan pelopor mi instan atas penggunaan merek "Maggixtra-delicious Magical Masala". Menurut penggugat, tergugat telah melakukan pendaftaran merek tersebut dengan iktikad tidak baik dan bertujuan untuk mendompleng keterkenalan merek "Sunfeast Yippie! Noddles Magic Masala" milik penggugat. 

    Selain itu, penggunaan kata kemasan pada produk mi instan Tergugat juga dipermasalahkan sebagai Tindakan Passing-Off oleh Penggugat. Namun, dalam sengketa tersebut, Majelis Hakim menolak gugatan tersebut. Majelis Hakim berpendapat bahwa penggunaan kata “Magic” atau “Magical” merupakan kata umum yang bersifat menonjolkan rasa dari kedua produk dan kata “Masala” adalah jenis garam yang diolah dengan dari rempah-rempah dan merupakan istilah yang umum dalam industri makanan.

    "Secara empirik, contoh kasus sengketa di atas mencerminkan adanya persaingan bisnis yang kurang sehat. Sejatinya perilaku konsumen saat ini membuat persaingan usaha antarperusahaan tumbuh dengan baik," ungkap Suwantin, dalam sebuah webinar, Senin, 22 Februari 2021.

    Loyalitas konsumen akan suatu produk merupakan proses yang tidak secara langsung berhubungan dengan penggunaan sebuah kata/nama/istilah sebagai merek. Melalui perkembangan dan perjalanan sebuah produk kadangkala membuat pemilihan nama menjadi sangat umum sebagai bentuk pemahaman kebutuhan. Serta karakter konsumen hingga saat ini, sehingga dipandang wajar penggunaan istilah yang mudah melekat di benak konsumen sebagai sebuah merek.

    "Kami berharap melalui webinar ini, dapat menjadi ruang diskusi untuk menghasilkan tolok ukur dan pertimbangan yang tepat dari Kantor Merek, hakim, dan/atau pejabat terkait dalam menilai apakah suatu merek memiliki unsur kata umum/deskriptif, serta menyepakati secara luas unsur-unsur yang dapat dianggap sebagai daya pembeda atas suatu merek," tambah Suwantin.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id