EBT Berpotensi Jadi Pendorong Pemulihan Ekonomi Nasional

    Suci Sedya Utami - 10 Oktober 2020 07:47 WIB
    EBT Berpotensi Jadi Pendorong Pemulihan Ekonomi Nasional
    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif. FOTO: Kementerian ESDM
    Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) bisa menjadi salah satu strategi untuk mendorong pemulihan roda perekonomian nasional usai pandemi covid-19.

    Merebaknya pandemi di berbagai belahan dunia memberikan tantangan tersendiri bagi proses transformasi energi nasional. Kemajuan peradaban menyebabkan permintaan terhadap energi meningkat dan pemerintah pun harus menyediakan energi dalam jumlah yang cukup, merata, terjangkau, dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Saat ini Indonesia masih mengandalkan energi berbasis fosil yang sebagian besarnya berasal dari impor. Ketergantungan terhadap impor energi menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga perekonomian dan ketahanan energi nasional.

    Di sisi lain, negara-negara di dunia telah berkomitmen untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan mengurangi energi fosil pada seluruh sektor termasuk transportasi ke energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

    Arifin berpendapat hal ini menjadi momentum untuk memaksimalkan pengunaan sumber EBT di Tanah Air yang melimpah, tidak hanya untuk mendorong kegiatan ekonomi namun juga membantu mengatasi perubahan iklim akibat pemanasan global.

    "Tidak hanya mendorong terbukanya pertumbuhan ekonomi yang berketahanan dan berkelanjutan, pemanfaatan EBT juga akan berdampak signifikan bagi upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dan menciptakan lapangan kerja baru," kata Arifin, dalam launching The 9th Indonesia EBTKE ConEx secara virtual, Jumat, 9 Oktober 2020.

    Saat ini pemanfaatan EBT di Indonesia baru sekitar 9,15 persen baik untuk sektor pembangkit maupun nonpembangkit. Padahal, Indonesia memiliki potensi EBT lebih dari 400 gigawatt (GW).

    Di sektor pembangkit, kapasitas EBT yang terpasang baru 10,4 GW dari total seluruh pembangkit 69 GW. Artinya baru 15 persen dari total pembangkit atau 2,5 persen dari potensi EBT di dalam negeri.

    Sebagai upaya untuk mempercepat proses transisi energi fosil ke EBT dan meningkatkan investasi, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah kebijakan pendukung di antaranya berupa Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur pembelian energi listrik EBT oleh PT PLN (Persero).

    Selain itu menciptakan pasar baru EBT melalui program renewable energy based industrial development dan renewable energy based on economic development yang dicanangkan untuk mempercepat pemanfaatan EBT di kawasan industri dan ekonomi khusus. Serta mendukung pengembangan EBT di wilayah terpencil, terluar dan terdepan (3T).

    Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Paul Butarbutar mengatakan melalui forum Indonesia EBTKE ConEx diharapkan akan menjadi jalan untuk mempercepat investasi EBT lebih massif lagi. Sebab, akan ada banyak pelaku bisnis yang bergabung di forum ini.

    "Kita juga akan melakukan bisnis matching yang mempertemukan antara investor EBT, sehingga nantinya kita harapkan di dalam Indonesia EBTKE ConEx kita bisa menyamakan pendapat dan menghadirkan pihak-pihak yang dapat membantu kita merealisasikan transisi energi  dan investasi EBT di Indonesia," pungkas Paul.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id