Dapat Tawaran dari Tiongkok, Bagaimana Nasib Smelter Freeport di Gresik?

    Suci Sedya Utami - 31 Maret 2021 17:33 WIB
    Dapat Tawaran dari Tiongkok, Bagaimana Nasib <i>Smelter</i> Freeport di Gresik?
    Ilustrasi pembangunan smelter Freeport - - Foto: Antara/ M Agung Rajasa



    Jakarta: Nasib smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) yang berada di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik kini berada di ujung tanduk. Hingga akhir 2020, progres pembangunan smelter ini baru mencapai enam persen dari target 10 persen.

    Di tengah keterlambatan tersebut, Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak selaku induk holding pertambangan dan pemilik sebagian saham PTFI mengaku mendapat tawaran dari perusahaan asal Tiongkok Tsingshan Steel untuk membangun smelter tembaga di Weda Bay, Halmahera Tengah.






    "Di tengah menanti itu, kami mendapatkan tawaran juga dari Tsingshan untuk ada alternatif ke Halmahera," kata Orias dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI, Rabu, 31 Maret 2021.

    Bahkan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya mengatakan pekan ini PTFI dan Tsingshan Steel menandatangani perjanjian pembangunan smelter tersebut.

    Sayangnya belum ada keputusan apakah tetap melanjutkan pembangunan di Gresik atau pindah haluan ke Weda Bay. Orias menyebut PTFI tetap menjalankan pembangunan smelter di Gresik dengan investasi yang mencapai USD300 juta.

    "Jadi memang kita tetap serius di sana (Gresik) sampai keputusan final kita akan ke mana," jelas Orias.


    Nasib smelter ini juga menjadi perhatian para legislator salah satunya Falah Amru, anggota Komisi VII Fraksi PDI-Perjuangan. Ia meminta kejelasan mengenai rencana pembangunan smelter di Weda Bay, sedangkan di sisi lain smelter di Gresik jalan di tempat.

    "Akhirnya di mana pembangunan smelter ini? Kalau tetap di Gresik ya Alhamdulillah, selain di sana adalah dapil saya, tapi kan di sana sudah berjalan. Jadi smelter ini jangan hanya diomongkan, dininabobokan," jelas Falah.

    Sebelumnya Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto Tsingshan memiliki teknologi yang bisa menekan belanja modal atau capex (capital expenditure), sehingga lebih efisien.

    Bahkan Tsingshan berani untuk memberikan pembiayaan pendanaan capex yang maksimal. Dari negosiasi-negosiasi terhadap tawaran tersebut, Tsingshan siap menanggung pendanaan sebanyak 92,5 persen dari biaya proyek. Sementara 7,5 persen sisanya akan ditanggung Freeport.
     
    Sedangkan untuk smelter di Gresik, PTFI harus merogoh USD3 miliar. Kapasitas smelter yang dibangun ini nantinya mampu mengolah dua juta ton konsentrat tembaga per tahunnya.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id