comscore

Mendag: Stabilitas Harga Bahan Pokok Tekan Inflasi Volatile Food

Husen Miftahudin - 19 Januari 2022 10:41 WIB
Mendag: Stabilitas Harga Bahan Pokok Tekan Inflasi <i>Volatile Food</i>
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi. Foto : MI.
Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengatakan sektor perdagangan dalam negeri yang secara umum inflasi volatile food sepanjang 2021 sebesar 3,20 persen (yoy), relatif rendah dibanding tahun sebelumnya sebesar 3,62 persen (yoy).

"Pada 2021, volatile food menyumbang 16 persen dari keseluruhan inflasi yang tercatat sebesar 1,87 persen (yoy)," ujar Lutfi dalam konferensi pers virtual Outlook Perdagangan 2022, dikutip Rabu, 19 Januari 2022.

 



Menurutnya, jika dilihat dinamika inflasi selama empat tahun terakhir, terdapat dua periode kenaikan harga setiap tahunnya, yakni pada periode Puasa-Lebaran serta Natal-Tahun Baru. Namun, pada periode Puasa-Lebaran 2021, inflasi volatile food di bawah satu persen. Hal ini menunjukan tidak terjadi kenaikan harga yang terlalu signifikan.

Lutfi bilang bahwa hal tersebut disebabkan oleh pasokan pangan yang cukup dan permintaan yang belum pulih sepenuhnya akibat pandemi. Sementara pada periode Natal dan Tahun Baru, komoditas yang menyumbang inflasi antara lain telur, daging ayam, minyak goreng, cabai rawit merah, dan daging sapi.

"Akan tetapi jika dilihat dari harga-harga tersebut, saat ini cabai sudah turun signifikan dibanding akhir tahun lalu. Sementara, telur saat ini harganya sudah mendekati harga acuan," jelas Lutfi.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Muhammad Ikhsan menyampaikan bahwa inflasi harus dijaga di tingkat normal yaitu tiga plus minus satu persen. Sementara pada 2021, inflasi tercatat sebesar 1,87 persen yang artinya di bawah normal.

Ia menilai capaian 2021 merefleksikan permintaan yang masih rendah. Selain itu, juga karena keberhasilan dalam mengendalikan inflasi volatile food yang terendah selama empat tahun terakhir.

"Menjaga inflasi tetap normal dilakukan dengan menjaga produksi, menjaga perubahan suplai agar stok di dalam negeri tetap ada, serta menjaga agar administered prices tidak naik," tegas dia.

Menurut Ikhsan, pada 2022 terdapat beberapa risiko yang harus dihadapi. Di antaranya mengenai volatile food, kenaikan harga pangan pada Lebaran, Natal, dan Tahun Baru harus dijaga. Selain itu, adanya kenaikan harga komoditas seperti minyak goreng serta antisipasi kondisi cuaca.

"Hal tersebut harus diwaspadai terutama pada kuartal pertama. Untuk itu perlu disiapkan mitigasi, misalnya dengan meningkatkan stok supaya inflasi pada volatile food dapat dijaga. Yang harus juga diantisipasi adalah kenaikan harga energi. Diharapkan hal ini akan bergerak ke pola normal sehingga tekanan pada administered prices bisa berkurang," terang Ikhsan.

Di sisi lain, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Arsjad Rasjid mengungkapkan, sisi kebijakan maupun reformasi struktural yang sedang dijalankan sangat membantu. Selain itu, Undang-Undang Cipta Kerja akan membuat investasi lebih banyak lagi dan meningkatkan kemudahan berusaha bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

"Pada 2022, hal yang harus ditingkatkan bersama-sama adalah penyerapan tenaga kerja. Dilihat dari sisi investasi, penyerapan tenaga kerja tercatat sebesar 5,9 persen secara tahunan. Jadi, masih ada pekerjaan rumah bagaimana penyerapan tenaga kerja lebih optimal. Selain itu, yang harus diperhatikan juga terkait logistik agar peluang yang ada dapat dimaksimalisasi," pungkas Arsjad.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id