Pemerintah Punya Peran untuk Dongkrak Penggunaan Produk Dalam Negeri

    Eko Nordiansyah - 17 Maret 2021 18:55 WIB
    Pemerintah Punya Peran untuk Dongkrak Penggunaan Produk Dalam Negeri
    Ilustrasi UMKM. Foto: Antara/Maulana Surya



    Jakarta: Pemerintah dinilai memiliki peran sentral untuk mendorong masyarakat mau menggunakan produk-produk dalam negeri. Dengan potensi pasar domestik yang cukup besar, seharusnya produk-produk dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

    Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel mengatakan produk lokal sejatinya tidak kalah kualitas dibandingkan produk impor. Sayangnya produk-produk dalam negeri sering kali dianggap lebih mahal dibandingkan produk yang didatangkan dari luar negeri.

     



    "Ini mesti ada komitmen dari pemerintah dulu, enggak bisa kita dorong kepada masyarakat begitu saja, karena kuncinya ada di pemerintah," kata dia dalam diskusi 'Manifesto Cinta Produksi Dalam Negeri dalam Strategi Pemulihan Ekonomi' secara virtual di Jakarta, Rabu, 17 Maret 2021.

    Ia menambahkan, pemerintah perlu mengambil langkah nyata untuk mendorong penggunaan produk-produk dalam negeri. Komitmen ini diperlukan di samping juga perlu adanya dukungan peraturan dari pemerintah agar mendorong industri dalam negeri.

    "Banyak proyek-proyek pemerintah yang masih menggunakan produk impor dari luar negeri. Misalnya pengadaan lampu itu hampir 100 persen, 80 persen dari Tiongkok masuk. Padahal dulu kita punya tiga pabrik lampu di Indonesia, sekarang tinggal hanya satu, impor semuanya. Belum lagi produk-produk lainnya," jelas dia.

    Untuk itu, Rachmat menyarankan, agar pemerintah memanfaatkan pasar domestik untuk membangun industri dalam negeri. Pasalnya untuk bisa bersaing dengan negara lain, diperlukan keterlibatan dari pemerintah secara langsung.

    Selain itu, persaingan global yang tidak bisa dihindari juga memerlukan keberpihakan dari pemerintah bagi industri lokal. Bukan hanya industri besar saja, tetapi pemerintah juga harus melindungi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dari serbuan produk asing.

    "Harus didorong, bagaimana kita mendorong UMKM dalam negeri, sementara perbankan bunga kita lebih tinggi dari bunga perbankannya luar negeri, belum negara memberi insentif untuk mendorong produk mereka untuk bisa ekspor. Kita belum ke sana secara konsisten program-program ini," pungkasnya.
       

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id