UMKM Bertahan di Saat Orang Tengah Rebahan

    Humaira Balqis, MetroTV - 09 September 2020 10:14 WIB
    UMKM Bertahan di Saat Orang Tengah Rebahan
    Foto: Instagram @steggo.id
    Jakarta: Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut terdampak perekonomian yang sulit di masa pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19). Namun, masih banyak UMKM yang memiliki asa untuk bangkit dan menjaga ‘mesin bisnis’ mereka. 

    Pandemi covid-19 memunculkan tantangan bagi UMKM untuk dapat bertahan dari terpaan badai ekonomi. Bisnis kuliner menjadi salah satu sektor yang bertahan, bahkan meningkat di masa pandemi dan menjadi peluang bisnis tersendiri bagi UMKM yang dapat membaca situasi. 

    Steggo, misalnya, yang sejak awal 2017 merintis Steak and Egg on the Go dengan daging steik Sugoi sebagai bahan baku utama. Usahanya turut merambah pasar makanan beku siap olah. 

    Pemilik Steggo, Richie Lovino, mengungkapkan produk Steggo beku sebenarnya sudah dipasarkan sejak 2019. Namun, di masa Pandemi ini penjualan produk mentah meningkat drastis, melebihi penjualan produk matang. 

    “Di masa pandemi, penjualan produk mentah (beku) mencapai 70 persen dan produk matang 30 persen,” ujar Richie saat ditemui di gerai Steggo, Panglima Polim, Jakarta Selatan, pada Rabu, 2 September 2020. 

    Richie Lovino mengungkapkan perubahan perilaku konsumen di masa pandemi adalah kunci peluang bisnis yang dapat dimanfaatkan. Berdasarkan pengamatannya, masyarakat yang tidak bepergiaan karena taat ujaran pemerintah untuk tetap di rumah cenderung mencari berbagai kegiatan untuk mengisi waktu. Salah satu aktivitas yang bisa dilakukan adalah memasak sendiri, bereksperimen mencoba berbagai resep yang bisa didapat dari internet.

    Untuk memberikan kemudahan eksperimen masak steik di rumah, Steggo melengkapi produk daging steik Sugoi beku dengan saus spesial ala Steggo (Steggsauce), lengkap dengan peralatan masak seperti grill pan dan capitan.

    Seiring permintaan produk mentah siap olah yang terus meningkat, Steggo menambah kapasitas mereka dan memperluas pemasaran produk dengan strategi “jemput bola”. Steggo membuka beberapa cabang di luar Jakarta demi mendekatkan gerai dengan calon pembeli. Pertimbangannya adalah untuk mengurangi ongkos kirim yang harus dibayar calon pembeli ketika memesan produk Steggo dari platform digital. 

    “Alhamdulillah (dengan “jemput bola”) penjualan kami meningkat karena kami berhasil menggapai pembeli di luar Jakarta.” tambah Richie. 

    Meskipun terasa sulit, pandemi covid-19 menantang dirinya untuk terus beradaptasi dengan keadaan. omzet Steggo sempat turun sebesar 50 persen. Namun, hingga kini Steggo tidak mengurangi jumlah pegawai. Kesejahteraan pegawai, yang rata-rata merupakan tulang punggung keluarga, menjadi tanggung jawab Steggo. 
    UMKM Bertahan di Saat Orang Tengah Rebahan
    Salah satu racikan Dapur Bucik. Foto: Instagram @dapurbucik
     

    Dagang lewat gawai

    Peluang bisnis makanan di masa pandemi covid-19 juga dimanfaatkan Sri Desmi Yorita, seorang Ibu rumah tangga yang sudah berkecimpung di bisnis kuliner skala mikro berlabel ‘Dapur Bucik’, sejak 2000. 

    Di samping menjual kuliner khas Palembang seperti pempek, tekwan, dan srikaya Yorita juga menjual nasi bakar dan berbagai macam lauk pauk khas Nusantara, seperti rendang, ayam bakar khas Palembang, hingga balado daging atau paru yang dapat dipesan dengan sistem pre-order. 

    Menurut Yorita, di saat masyarakat enggan untuk beranjak keluar rumah (untuk mengurangi kemungkinan terinfeksi virus corona), termasuk ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur, di situlah peluang bisnis terbuka. 

    "Setiap orang butuh makan, ketika mereka (masyarakat) belanja ke pasar itu artinya mereka tidak bisa masak, tapi perut tetap harus diisi, kan. Di situlah peluang bisnisnya. Kebetulan saya pandai masak beragam menu Nusantara," ujar Yorita, perempuan yang akrab disapa Bucik ini. 

    Pemasaran menu Dapur Bucik dilakukan lewat laman media sosial dan bekerja sama dengan Go-food dari Gojek. 

    Penjualan nasi bakar dan lauk pauk khas Nusantara mendongkrak omzet Dapur Bucik. Dalam sebulan, Yorita mengumpulkan pendapatan bersih Rp2 juta hingga Rp3 juta dari penjualan pempek, srikaya, nasi bakar, dan lauk pauk Nusantara. 

    Di saat permintaan terus meningkat, Yorita berkomitmen untuk tetap mempertahankan kualitas makanan yang ia masak. 

    (UWA)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id