Kena Dugaan Pelanggaran Praktik Diskriminasi Tiket Umrah, Garuda Ajukan Ini

    Annisa ayu artanti - 19 September 2020 10:51 WIB
    Kena Dugaan Pelanggaran Praktik Diskriminasi Tiket Umrah, Garuda Ajukan Ini
    Ilustrasi. FOTO: MI/SUMARYANTO
    Jakarta: PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengajukan perubahan perilaku dalam perkara dugaan pelanggaran praktek diskriminasi yang dilakukan oleh perusahaan penjualan tiket umrah rute menuju dan dari Jeddah dan Madinah.

    Pernyataan tersebut disampaikan Garuda Indonesia pada 10 September 2020 dalam menjawab kesempatan perubahan perilaku yang ditawarkan pada Sidang Majelis Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 06/KPPU-L/2019 pada 2 September 2020.

    Dalam keterangan tertulis KPPU yang dikutip Medcom.id, Sabtu, 19 September 2020, Garuda Indonesia menyatakan komitmen melakukan perubahan perilaku dan menundukkan diri kepada tata cara perubahan perilaku sebagaimana diatur dalam Peraturan KPPU Nomor 1 Tahun 2019 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

    Komitmen perubahan akan dituangkan dalam Pakta Integritas Perubahan Perilaku yang ditandatangani oleh Garuda Indonesia. Adapun perkara yang berasal dari laporan tersebut berawal pada 13 Maret 2019. Saat itu maskapai pelat merah tersebut menerbitkan informasi terkait pelayanan penjualan tiket Middle East Asia (MEA) Route yang berlaku efektif pada 1 Maret 2019.

    Informasi tersebut berisikan mitra usaha Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dapat melakukan pembukuan tiket Garuda Indonesia untuk rute MEA melalui konsorsium mitra usaha strategis yang telah ditentukan oleh manajemen Garuda Indonesia, yakni PT Smart Umrah (Kanomas Arci Wisata), PT Maktour (Makassar Toraja Tour), dan PT NRA (Nur Rima Al-Waall Tour).

    Surat tersebut kemudian direvisi untuk menambahkan PT Wahana Mitra Usaha (Wahana) sebagai mitra keempat. Kemudian, pada 1 September 2019 PTGI membuat kesepakatan dengan PT Aero Globe Indonesia untuk melakukan penjualan tiket rute MEA.

    Pada periode pelanggaran, terdapat 307 PPIU di Indonesia, termasuk lima wholesaler Garuda Indonesia. Perilaku ini membuat para PPIU harus melakukan reservasi tiket umrah kepada lima wholesaler dimaksud dan mengakibatkan pasar penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah menjadi terkonsentrasi kepada mereka.

    Hal itu juga mengakibatkan kurangnya kemampuan bersaing bagi sebagian besar PPIU karena sebagian besar calon jemaah, khususnya di daerah, cenderung lebih memilih menggunakan angkutan usaha yang dioperasikan Garuda Indonesia dibandingkan maskapai lain.

    Memperhatikan komponen biaya transportasi yang mencapai 50 persen biaya perjalanan ibadah umrah (BPIU), maka konsentrasi layanan juga dapat mengakibatkan kenaikan BPIU.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id