Capai Target EBT 23% Tak Bisa Andalkan PLN Semata

    Suci Sedya Utami - 10 Oktober 2020 12:00 WIB
    Capai Target EBT 23% Tak Bisa Andalkan PLN Semata
    Ilustrasi penggunaan energi terbarukan - - Foto: AFP
    Jakarta: Indonesia memiliki target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen di 2025. Di subsektor kelistrikan, target tersebut tidak bisa dengan mengandalkan pembangunan pembangkit oleh PT PLN (Persero) saja.

    Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Harus Yahya menjelaskan saat ini kapasitas pembangkit EBT yang terpasang baru 10,4 gigawatt (GW). Jumlah itu baru 2,5 persen dari potensi EBT yang berkisar 400 GW.

    Dibutuhkan kurang lebih tambahan kapasitas 19 GW dalam memenuhi target itu. Namun, setiap tahunnya penambahan kapasitas terpasang pembangkit EBT hanya 500 megawatt (MW). Artinya jika mengikuti tren tersebut maka kapasitas di 2025 hanya bertambah 2.500 MW. Meski PLN merencanakan tambahan pembangkit EBT sebesar 5.500 MW hingga 2025, Kapasitasnya masih akan sebesar 7.000 MW atau 7 GW.

    "Nah itu pun belum cukup sehingga masih perlu tambahan lagi. Untuk mencapai 23 persen memang enggak bisa hanya mengandalkan RUPTL PLN, tapi keterlibatan swasta juga harus ada," kata Haris dalam launching Indonesia EBTKE ConEx, Jumat, 9 Oktober 2020.

    Karena itu, pemerintah kini tengah menjalankan sejumlah program renewable energy based on industry development (REBID) dan renewable energy based on economic development (REBED) untuk mempercepat pemanfaatan EBT di kawasan industri dan ekonomi khusus. Program tersebut melibatkan sektor swasta.

    "Jadi melibatkan sektor swasta untuk menyediakan listrik mulai dari supply sampai demand-nya yang padat energi, dalam hal ini demand-nya lebih banyak pada industri," ujar dia.

    Sementara itu di subsektor non-kelistrikan atau bahan bakar, porsinya baru 25 persen dari total keseluruhan pemanfaatan EBT yang sebesar 9,5 persen dari target 23 persen. Di non-kelistrikan, pemerintah sudah menerapkan kewajiban biodiesel sebesar 30 persen (B30) dan akan ditingkatkan hingga B100.

    "Jadi apakah kita bisa sampai ke 23 persen, kita upayakan semaksimal mungkin," jelas Haris.


    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id