Kemenperin Fokus Substitusi Impor Sektor ILMATE

    Husen Miftahudin - 10 Juni 2021 18:58 WIB
    Kemenperin Fokus Substitusi Impor Sektor ILMATE
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu sektor Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) agar dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan bagi perekonomian nasional. Berbagai program dan kebijakan telah dijalankan guna mendongkrak performa sektor strategis tersebut.

    "Kinerja ekspor dari sektor ILMATE masih menjadi primadona di tengah situasi yang tidak menentu akibat pandemi covid-19. Diharapkan, kontribusinya mampu mengakselerasi upaya pemulihan ekonomi nasional," kata Direktur Jenderal ILMATE Kemenperin Taufiek Bawazier dalam siaran persnya, Kamis, 10 Juni 2021.

     



    Pada kuartal I-2021, nilai ekspor sektor ILMATE menembus angka USD12,4 miliar atau naik sebesar 27 persen dibandingkan nilai pengapalan tahun sebelumnya yang mencapai USD9,7 miliar. Selain itu, nilai investasi sektor ILMATE juga terus menunjukkan tren positif, dengan nilai penanaman modal periode kuartal I-2021 sebesar Rp40,361 triliun.

    "Industri logam masih menjadi kontributor terbesar, baik dalam nilai ekspor dan nilai investasi, dengan nilai ekspor USD5,6 miliar dan nilai investasi sebesar Rp27,68 triliun," ungkap Taufiek.

    Menurutnya, guna membangkitkan kembali gairah usaha para pelaku industri di Tanah Air, Kemenperin telah mengeluarkan jurus substitusi impor 35 persen pada tahun 2022. Langkah ini dijalankan secara simultan dengan peningkatan utilisasi produksi, mendorong pendalaman struktur industri, dan peningkatan investasi.

    "Sektor ILMATE sendiri memiliki target untuk menurunkan impor sebesar Rp37,28 triliun hingga 2022, dari total 106 nomor HS (komoditi), mulai dari logam, kendaraan bermotor, sepeda, peralatan elektronik maupun alat kesehatan," sebut Taufiek.

    Pada 2020, penurunan impor di sektor ILMATE mencapai Rp21,01 triliun. Adapun beberapa langkah strategis yang sedang diupayakan oleh Kemenperin untuk memacu substitusi impor tersebut, antara lain terkait Minimum Import Price (MIP), kuota impor maupun perizinan impor. Kemudian, penerapan Pre-Shipment Inspection pada produk impor, serta pengaturan entry point pelabuhan untuk komoditi tertentu, dan diarahkan ke Pelabuhan di luar Jawa.

    Berikutnya, melakukan pembenahan LSPro, mengembalikan kebijakan post border ke kebijakan border dan melakukan rasionalisasi Pusat Logistik Berikat, menaikkan tarif MFN bagi komoditi yang tinggi nilai impornya dan telah ada industrinya di dalam negeri, serta menaikkan implementasi Trade Remedies.

    "Selain itu, perlu dilakukan juga penerapan kebijakan P3DN secara tegas; pemberlakuan SNI Wajib dan Technical Barrier to Trade (TBT), serta pengenaan bea keluar untuk beberapa komoditi primer dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku di dalam negeri," tuturnya.

    Taufiek optimistis, berbagai langkah strategis tersebut dapat menekan dan menurunkan nilai impor industri manufaktur, termasuk sektor ILMATE. Bahkan, mampu mendorong penguatan daya saing dan kemandirian sektor industri nasional.

    "Kami yakin, dengan terus melakukan berbagai upaya strategis dan kerja sama yang dibangun dengan berbagai pihak, target penurunan impor 35 persen hingga 2022 dapat tercapai," pungkas dia.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id