Waspada Potensi Resesi di Indonesia

    Angga Bratadharma - 18 Mei 2020 20:11 WIB
    Waspada Potensi Resesi di Indonesia
    Ilustrasie Ekonomi Indonesia. Foto : MI/MOHAMAD IRFAN.
    Jakarta: Pemerintah perlu mengambil langkah antisipasi terkait melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2020 yang hanya mencapai 2,97 persen. Apalagi, jika dilihat secara kuartal ke kuartal terlihat pertumbuhan ekonomi terus menukik, belum ditambah adanya krisis akibat pandemi covid-19 yang mulai menyebar luas di Tanah Air.

    "Pertumbuhan ekonomi Indonesia dan PDB secara kuartal ke kuartal terus menukik dari triwulan II-2018 di angka 5,27 persen ke kuartal I-2020 di angka 2,97 persen. Hampir 50 persen sudah terpangkas," kata Chief Economist BNI Ryan Kiryanto, dalam Ramadhan Digital Talkshow bertajuk 'Restrukturisasi Kredit/Pembiayaan di Masa Pandemi Covid-19', Senin, 18 Mei 2020.

    Ia tidak menampik jika dilihat secara tahun ke tahun (yoy) pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama tahun ini positif 2,97 persen. Akan tetapi, pertumbuhan secara kuartal ke kuartal negatif 2,41 persen. Dengan kondisi itu, Ryan memperingatkan agar segera dicarikan jalan keluarnya dan jangan sampai terus melemah di kuartal berikutnya.

    "Hati-hati. Kalau sampai kuartal kedua nanti kita tumbuh masih negatif maka secara teori mengatakan jika suatu negara mengalami pertumbuhan secara kuartal di dua kuartal berturut-turut negatif maka negara itu mengalami zona resesi. Ini harus jadi perhatian bersama," kata Ryan.

    Jika dirinci, Ryan menjelaskan, kontribusi PDB di kuartal I-2020 disumbangkan oleh sektor yang berasal dari mayoritas tersier dan bukan dari mayoritas primer. Adapun sektor tersier seperti sektor jasa keuangan, sektor asuransi, sosial bisnis, dan lain semacamnya. Dengan kata lain, sektor tersebut tidak memiliki daya ungkit signifikan terhadap pembentukan PDB.

    "Mohon maaf, pertumbuhan yang tinggi dikontribusikan oleh sektor ekonomi yang termasuk kategori tidak ada daya ungkit holistik dalam pembentukan PDB," ucapnya.

    Menelisik data kuartal I-2020, Ryan melihat, konsumsi rumah tangga tumbuh 2,84 persen atau hanya setengah dari pencapaian di tahun-tahun sebelumnya yang bisa berada di atas angka lima persen. Hal semacam itu perlu diperhatikan oleh semua pihak termasuk pemerintah agar lebih serius melihat penurunan konsumsi rumah tangga.

    "Konsumsi rumah tangga secara total di PDB besar. Kalau konsumsi rumah tangga turun maka PDB negara anjlok. Itu sudah terjadi di negara kita dan dampaknya ke sektor lain terutama di sektor keuangan dan perbankan. Kredit bank melambat, kegiatan di pasar modal tidak normal lagi karena akumulasi konsumsi rumah tangga yang terkendala," tegas Ryan.

    Bahkan, masih kata Ryan, pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2020 itu terjadi ketika covid-19 belum masuk secara luas di Tanah Air. Adapun pengumuman adanya warga yang terpapar covid-19 terjadi pada awal Maret. Dengan kata lain, pembentukan PDB masih disumbangkan pada Januari dan Maret.

    "Pengumuman covid-19 yang dua orang itu diumumkan pada 2 Maret. Artinya ada dua bulan sebelumnya pembentukan PDB yang disumbangkan pada Januari dan Februari serta sedikit di Maret. Dan, kita tumbuh 2,97 persen. Itu covid-19 belum masuk semua. Itu jadi catatan kita," pungkasnya.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id