Menteri KKP: Budi Daya Lobster Harus Dikembangkan di Dalam Negeri

    Suci Sedya Utami - 20 Januari 2021 15:49 WIB
    Menteri KKP: Budi Daya Lobster Harus Dikembangkan di Dalam Negeri
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Daviq Umar.



    Buleleng: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan fokus mengembangkan budi daya lobster dalam negeri untuk mendukung kesejahteraan nelayan, pembudi daya dan menjaga keberlanjutan biota laut tersebut.

    "Pesan saya jelas bahwa budi daya akan kita kembangkan terus dan menjadi tanggung jawab Ditjen Perikanan Budi Daya, khususnya untuk lobster saya akan all-out bahwa ini harus dikembangkan di dalam negeri,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam kunjungannya ke lokasi budidaya lobster di keramba jaring apung, Buleleng, Bali, Rabu, 20 Januari 2021.






    Lobster yang dipanen di keramba jaring apung Sumberkima jumlahnya mencapai 300 kilogram dengan ukuran 200-300 gram per ekor. Hasil panen lobster jenis pasir serta mutiara ini akan langsung diekspor ke Tiongkok dan merupakan ekspor perdana lobster hasil budi daya dengan sistem kandang tenggelam (submerged cages).

    Panen parsial kali ini merupakan kedua kalinya sejak budi daya dilakukan setahun lalu. Panen sebelumnya Desember 2020 dengan hasil 200 kilogram.

    "Ini satu bukti menurut saya. Tadi saya sudah pegang ada yang beratnya satu kilogram lebih dan itu waktu budidayanya satu tahun. Ada juga yang empat bulan bisa panen dan menghasilkan," ujar Trenggono.

    Keberhasilan budi daya lobster di Desa Sumberkima, menurut Trenggono, harus diikuti di daerah lain. Sebab Indonesia memiliki banyak benih yang merupakan modal utama untuk mengembangkan budi daya.

    Dia berharap semua pihak bersinergi mengembangkan budi daya lobster ini. Karena selain manfaat ekonomi dan keberlanjutan yang diperoleh, budi daya lobster dalam negeri akan menekan angka penyelundupan benur yang masih terjadi sampai sekarang.

    “Semua pihak harus bisa mendukung supaya jangan ada lagi penyelundupan BBL, semua harus bisa dibudidayakan di dalam negeri,” jelas dia.

    Hal senada juga disampaikan Ketua Gabungan Pengusaha Lobster Indonesia (GPLI) Gunawan, bahwa Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi negara pengekspor lobster terbesar di dunia. GPLI menargetkan ekspor lobster hasil budi daya sebesar 30 ribu ton per tahun, yang akan dicapai dalam waktu 10 tahun. Sehingga kedepannya semakin banyak benih yang terserap untuk dibudidayakan di dalam negeri.

    "Kami akan jadikan Sumberkima sebagai lobster estat pertama di Indonesia dan berikutnya akan kami kembangan sampai ke suluruh pelosok nusantara," tutur Gunawan.

    Direktur PT Lautan Berkah Perkasa Dwi Hariyanto menjelaskan, ada dua jenis lobster yang dibudidayakan di keramba jaring apung yang dikelolanya, yakni pasir dan mutiara. Dia menargetkan 100 petak kerambanya mampu memproduksi 24 ton lobster per tahun.

    "Budi daya di sini memakai sistem budidaya seperti di Vietnam. Bibit ditaruh di kandang, lalu dimasukkan ke laut di kedalaman lima meter. Di kedalaman tersebut suhu dan salinitas terjaga dan lobster terlindungi dari sinar matahari langsung," urai Dwi.

    Dari aktivitas budidaya lobster ini, terserap 10 orang tenaga kerja lokal. Sementara nelayan penyuplai benih jumlahnya lebih dari 100 orang, dari Banyuwangi, Jembrana dan Tabanan. Menurut Dwi, tenaga kerja yang dibutuhkan kemungkinan besar bertambah seiring keseriusan pihaknya mengembangkan budi daya lobster ini.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id