Pencoretan Limbah Batu Bara dari Daftar B3 Bakal Turunkan Tarif Listrik?

    Suci Sedya Utami - 16 Maret 2021 13:43 WIB
    Pencoretan Limbah Batu Bara dari Daftar B3 Bakal Turunkan Tarif Listrik?
    Ilustrasi. Foto: Dok. PLN



    Jakarta: Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan dikeluarkannya limbah batu bara dari daftar bahan berbahaya dan beracun (B3) tidak akan berpengaruh signifikan pada penurunan tarif listrik.

    Adapun limbah yang dimaksud merupakan abu terbang dan abu padat atau Fly Ash Bottom Ash (FABA) hasil pembakaran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).






    Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana menjelaskan, dengan dicoretnya FABA dari daftar B3 memang akan mengurangi biaya penanganan pengolahan limbah PLTU. Biaya tersebut merupakan salah satu komponen yang diperhitungkan dalam biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik.

    Hanya saja, kata Rida, dampaknya tidak signifikan pada pengurangan BPP yang bisa digunakan dalam mempertimbangkan penurunan tarif listrik pelanggan PT PLN (Persero).

    "Artinya operating maintenance berkurang. Mungkin menurunkan BPP, tapi secara signifikan enggak begitu banyak pengaruhnya, seingat saya enggak sebesar itu (pengaruh ke penurunan tarif listrik," kata Rida, Senin, 16 Maret 2021.

    Namun, kata Rida, di sisi lain dengan pencoretan dari daftar B3, FABA bisa dimanfaatkan untuk campuran bahan baku konstruksi seperti beton dan lain-lain. Pemanfaatan FABA ini berpotensi menghemat anggaran infrastruktur.

    "Efisiensi anggaran infrastruktur Rp4,3 triliun sampai 2028," ujar Rida.

    Di samping dapat menghemat biaya infrastruktur, pemanfaatan FABA menciptakan lapangan kerja yang dapat menyerap tenaga kerja hingga 500 ribu orang dalam skala usaha kecil. Serta menciptakan pendapatan bagi pekerja hingga Rp25,3 triliun dalam 10 tahun mendatang.

    Di dalam negeri pemanfaatan FABA belum optimal. Dari kebutuhan batu bara sepanjang 2019 yang mencapai 97 juta ton, limbah FABA yang diolah baru sebesar 10 persen atau 9,7 juta ton.

    Rida menjelaskan, dalam kurun waktu 10 tahun mendatang dengan program 35 gigawatt (GW) maka konsumsi batu bara secara nasional bisa mencapai 153 juta ton per tahun. Lebih jauh Rida menambahkan potensi produksi FABA dari pengoperasian PLTU ini sebesar 15,3 juta ton.

    "Artinya, ini potensi untuk bisa dikelola memang banyak," jelas Rida.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id