Perluasan Lahan Bukan Kunci Utama Dorong Produksi Pangan Nasional

    Suci Sedya Utami - 13 Januari 2021 17:24 WIB
    Perluasan Lahan Bukan Kunci Utama Dorong Produksi Pangan Nasional
    Ilustrasi lahan pertanian - - Foto: Antara/ Hendra
    Jakarta: Perluasan lahan bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Namun bisa dilakukan melalui efisiensi lahan yang sudah ada, peningkatan kapasitas petani hingga revitalisasi alat pertanian.

    Head of Research Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan perluasan lahan pertanian saat ini sulit dilakukan mengingat terbatasnya jumlah lahan. Hal ini karena gencarnya industrialisasi dan pembangunan infrastruktur yang tidak jarang malah harus mengorbankan lahan pertanian.

    "Keterbatasan lahan juga dikarenakan oleh jumlah penduduk yang terus meningkat," kata Felippa dalam keterangan resmi, Rabu, 13 Januari 2021.

    Di sisi lain, laju pertumbuhan penduduk Indonesia terjadi sangat cepat. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan populasi Indonesia akan mencapai 319 juta orang di 2045. Ia bilang jumlah penduduk yang bertambah harus diikuti dengan peningkatan produktivitas pertanian.

    "Peningkatan produktivitas pertanian di lahan yang ada dapat dilakukan melalui pengembangan kapasitas petani, pengembangan bibit berkualitas, maupun penggunaan alat-alat pertanian yang lebih efisien dan pembaharuan metode tanam,” terang dia.

    Menurutnya penggunaan alat-alat pertanian yang lebih efisien dan pembaharuan metode tanam sangat erat kaitannya dengan efisiensi produksi. Penelitian International Rice Research Institute (IRRI) pada 2016 menemukan bahwa rata-rata ongkos produksi beras di Indonesia sekitar Rp 4.079 per satu kilogram beras.

    Angka itu 2,5 kali lebih mahal dari Vietnam (Rp1.679) dan dua kali lebih mahal dari Thailand (Rp2.291) dan India (Rp2.306). Biaya produksi beras di Indonesia juga lebih mahal 1,5 kali dibandingkan dengan biaya produksi di Filipina (Rp3.224) dan Tiongkok (Rp3.661).

    Studi IRRI juga menunjukkan komponen dari ongkos produksi yang besar ini adalah sewa tanah (Rp1.719) dan biaya tenaga kerja (Rp1.115) untuk memproduksi satu kilogram beras tanpa sekam. Produktivitas tenaga kerja yang rendah di Indonesia telah berkontribusi pada rendahnya daya saing sistem usaha tani padi dan telah berkontribusi pada kemiskinan di daerah pedesaan.

    “Penguasaan teknologi di kalangan petani juga belum menjadi sesuatu yang memasyarakat. Hal ini tentu membutuhkan waktu,” ujar Felippa.

    Revitalisasi alat pertanian dan mesin pengolahan juga penting dilakukan karena hal ini sangat memengaruhi produktivitas pangan. Untuk itu, lanjut Felippa, pemerintah seharusnya mendukung pengembangan teknologi pertanian dan mendorong peningkatan investasi untuk riset dan pengembangan.  

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id