comscore

Penaikan Tarif Listrik Wewenang Pemerintah, Bos PLN: Monggo Saja

Insi Nantika Jelita - 26 Januari 2022 14:09 WIB
Penaikan Tarif Listrik Wewenang Pemerintah, Bos PLN: <i>Monggo</i> Saja
Ilustrasi pelanggan rumah tangga mengecek meteran listrik - - Foto: dok PLN
Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN akan mematuhi keputusan pemerintah perihal rencana penyesuaian tarif listrik atau automatic tariff adjustment (ATA) untuk golongan nonsubsidi.

"Kami sendiri dalam hal ini monggo saja, keputusan dari pemerintah akan kami laksanakan," kata Direktur PLN Darmawan Prasodjo saat rapat kerja Komisi VII DPR secara virtual, Rabu, 26 Januari 2021.
Namun, ihwal pemberlakuan kenaikan tarif listrik itu belum diputuskan sampai saat ini. Darmawan menerangkan kebijakan penyesuaian tarif listrik bukan kewenangan PLN semata.

"Tentu saja ini keputusan ini bukan di PLN saja. Tapi, ini keputusan bersama dari DPR RI, Kementerian Keuangan, ESDM, dan Istana," ungkapnya.

Darmawan menuturkan, sejak 2017 pemerintah tidak menaikan harga listrik, akibatnya negara harus memberikan kompensasi pembiayaan listrik untuk golongan nonsubsidi.

"Dari total penjualan listrik PLN itu seperempatnya untuk listrik subsidi. Tiga perempat (subsidi) atau sekitar 73 persen itu adalah listrik untuk keluarga nonsubsidi. Untuk ATA sudah di freeze sejak 2017," sebutnya.

"Nah, jika ATA ini dilepas, maka akan ada kenaikan tarif sesuai adjustment berdasarkan parameter kurs, ICP atau harga batu bara acuan dan tingkat inflasi," pungkas Darmawan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani sebelumnya mengaku keberatan jika harga listrik naik di tahun ini. Hal tersebut diyakini akan menambah beban industri.

"Rencana tersebut menurut kami tidak tepat waktu dengan situasi pemulihan. Ini akan memberatkan karena banyak industri yang akan terasa dan terdampak soal kenaikan tarif listrik," jelasnya saat dihubungi wartawan, Jumat, 21 Januari 2022.

Dia menjelaskan, sektor usaha memiliki cost yang berbeda dalam penggunaan listrik. Di sektor perhotelan, tarif pemakaian listrik menyumbang dari biaya usaha sekitar 25-30 persen. Kemudian, di industri logam dan baja, listrik memakan cost yang dominan dengan 60-70 persen dan industri dasar dan bahan kimia dengan cost 30-40 persen.

"Angka itu signifikan dari persentase biaya. Terasa sekali bagi dunia industri atau perusahaan jika tarif listrik naik di tahun ini," ucap Hariyadi.
 
Diketahui, penerapan tarif adjustment akan berlaku bagi 13 golongan pelanggan listrik PT PLN (persero) nonsubsidi pada tahun ini.

Ini kelompok 13 pelanggan listrik nonsubsidi berdasarkan data Kementerian ESDM:
  1. Pelanggan rumah tangga dengan daya 1.300 VA.
  2. Pelanggan rumah tangga dengan daya 2.200 VA.
  3. Pelanggan rumah tangga dengan daya 3.500-5.500 VA.
  4. Pelanggan rumah tangga dengan daya 6.600 VA ke atas.
  5. Pelanggan bisnis dengan daya 6.600-200 kVA.
  6. Pelanggan pemerintah dengan daya 6.600-200 kVA.
  7. Penerangan jalan umum.
  8. Pelanggan rumah tangga daya 900 VA atau rumah tangga mampu (RTM).
  9. Pelanggan bisnis daya >200 kVA.
  10. Pelanggan industri daya >200 kVA.
  11. Pelanggan pemerintah daya >200 kVA.
  12. Layanan khusus.
  13. Industri dengan daya >= 30 ribu kVA ke atas atau pelanggan tegangan tinggi.
Sejatinya, setiap penyesuaian tarif listrik dievaluasi setiap triwulan atau per tiga bulan disesuaikan dengan tiga faktor, yakni nilai tukar (kurs), harga minyak mentah (ICP), dan inflasi.

(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id