Pelatihan Kartu Prakerja Diimbau Tatap Muka di New Normal

    Medcom - 03 Juni 2020 14:52 WIB
    Pelatihan Kartu Prakerja Diimbau Tatap Muka di New Normal
    Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)
    Jakarta: Program pelaksanaan Kartu Prakerja dalam tatanan new normal diimbau kembali ke desain awal. Desainnya yaitu melalui pelatihan tatap muka.

    Anggota DPR Komisi IX Yahya Zaini mengatakan pelatihan tatap muka mempunyai komposisi kurikulum 30 persen teori dan 70 persen praktik. Dengan tatap muka diyakini dapat memberikan bekal keterampilan bagi pekerja yang dirumahkan, di-PHK atau pelaku UMKM yang kehilangan pekerjaan akibat covid-19. 

    "Pelatihan tatap muka membutuhkan alokasi waktu rata-rata dua minggu dengan jumlah peserta yang terbatas 16 orang setiap angkatan, sehingga sangat efektif," kata Yahya, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 3 Juni 2020.

    Meski begitu, politikus Golkar ini mengingatkan, yang perlu dirancang ulang adalah biaya pelatihannya. Besaran biaya pelatihan tatap muka berkisar empat juta per orang. Sedangkan untuk insentif dapat diturunkan menjadi Rp300 ribu per bulan selama tiga bulan. Dengan demikian, jumlah peserta yang dapat dijangkau juga akan mengalami koreksi menjadi sekitar empat juta orang. 

    Dengan pelatihan tatap muka akan memberdayakan Balai Latihan Kerja (BLK) yang berjumlah sekitar 305 dan tersebar di seluruh Indonesia. Sebanyak 21 BLK milik pusat dan 284 milik pemda dengan daya tampung sebanyak 275 ribu orang. Tentu harus dilakukan secara selektif sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. 

    Yahya yakin dengan mengembalikan ke desain pelatihan tatap muka atau offline akan meredam kritik masyarakat terhadap pelaksanaan Program Prakerja yang selama ini dilaksanakan secara online. 

    Tetapi dalam masa transisi sekarang ini dapat diterapkan pola mix atau gabungan pelatihan online dan offline. Pelatihan online tetap diperlukan terutama untuk jenis-jenis pelatihan yang tidak tersedia di BLK. 

    "Pelatihan online juga lebih diminati oleh peserta milenial. Sehingga akan terjadi pembagian peran yang sinergis antara pelatihan online dan offline," kata Yahya.

    Ia juga berharap penerapan pelatihan offline hendaknya jadi momentum untuk percepatan pemberdayaan BLK yang sudah dicanangkan oleh Kemenaker. 

    "Yang lebih penting, peserta akan mendapatkan ketrampilan yang benar-benar dapat diterapkan untuk usaha mandiri selama covid belum hilang tuntas," pungkas wakil rakyat dari Dapil Jawa Timur VIII tersebut.



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id