Pengusaha Muda Indonesia Tak Lagi Andalkan Model Bisnis Keluarga

    Angga Bratadharma - 29 Agustus 2020 16:01 WIB
    Pengusaha Muda Indonesia Tak Lagi Andalkan Model Bisnis Keluarga
    Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia Elin Waty. FOTO: Medcom.id/Angga Bratadharma
    Jakarta: Survei terbaru yang dilakukan Sun Life Financial Inc menunjukkan jumlah model bisnis keluarga multigenerasi di wilayah Asia diperkirakan menurun. Adapun riset yang dilakukan ini melibatkan lebih dari 240 keluarga pengusaha di Indonesia, dan 1.300 keluarga di wilayah Asia.

    Riset ini mengungkap perubahan cara pandang dari generasi pertama pemilik bisnis di Indonesia -ketika lebih dari 70 persen pengusaha muda yang disurvei percaya di masa depan, akan semakin sedikit model bisnis keluarga, dan setengahnya memilih menjual bisnis yang mereka rintis, dibanding meneruskannya kepada generasi selanjutnya.

    Survei Sun Life berjudul 'Future of Family Businesses in Asia' juga menemukan bahwa kehadiran pendemi covid-19 telah membangkitkan daya saing dari para pengusaha muda, mengingat persiapan mereka terhadap tantangan dan disrupsi bisnis yang tak terduga masih sangat minim.

    Riset ini dirancang untuk mengungkap bagaimana para pendiri (founder) usaha saat ini mengoperasikan bisnis mereka. Hal ini terlihat dari bagaimana persepsi dan tanggapan mereka terhadap risiko; rencana waktu pensiun dan suksesi bisnis mereka; serta pandangan terhadap model bisnis keluarga di dekade selanjutnya.

    Presiden Direktur Sun Life Indonesia Elin Waty menjelaskan bisnis keluarga adalah fondasi dari ekonomi di Asia. Terdapat sejumlah manfaat dari model bisnis keluarga yang dijalankan di wilayah ini. Namun pengusaha yang berusia lebih muda memiliki pandangan yang berbeda terkait masa depan bisnis mereka.

    "Kalangan ini cenderung membangun bisnis dengan cepat, menjualnya, dan kemudian mengambil pensiun dini, dibanding meneruskan bisnis ke anggota keluarga, seperti yang selama ini dilakukan," kata Elin Waty, dalam keterangan resminya, Sabtu, 29 Agustus 2020.

    "Pandemi covid-19 juga telah menciptakan tantangan serius terhadap bisnis, yang juga berdampak pada terganggunya rencana pensiun dan suksesi bisnis di masa depan," tambah Elin.

    Survei ini menemukan bagaimana para pemilik usaha keluarga berusia matang melakukan persiapan dan mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin dihadapi perusahaan, dan cenderung menerapkan rencana mitigasi terhadap risiko, untuk membangun ketahanan bisnis mereka.

    Pemilik bisnis keluarga umumnya bergantung pada sejumlah pembuat keputusan kunci dalam menjalankan perusahaan. Kesehatan dan kesejahteraan para pemegang posisi kunci ini terkait erat dengan kesehatan bisnis perusahaan.

    Hampir semua pemilik bisnis yang disurvei di Indonesia (95 persen) melaporkan bahwa jika mereka, atau para posisi kunci menderita penyakit kronis, dapat berakibat serius pada kelangsungan bisnis perusahaan.

    Namun, terdapat kesenjangan perlindungan kesehatan dan penyakit kritis antara pengusaha usia matang dibanding para pengusaha berusia muda di Indonesia, khususnya ketika covid-19 hadir. Berdasarkan survei, 73 persen pengusaha matang memiliki asuransi kesehatan pribadi, dan 71 persen memiliki perlindungan asuransi selaku posisi kunci di perusahaan.

    Sedangkan, hanya 50 persen pengusaha rintisan dan 56 persen pemilik bisnis berkembang memiliki asuransi kesehatan pribadi, sementara 25 persen pengusaha rintisan dan 38 persen pemilik bisnis berkembang memiliki perlindungan sebagai posisi kunci di perusahaan.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id