Menteri Teten: Kontribusi Ekspor UMKM RI hanya 14,37%

    Husen Miftahudin - 19 April 2021 12:09 WIB
    Menteri Teten: Kontribusi Ekspor UMKM RI hanya 14,37%
    UMKM. Foto : MI/Hendrik.



    Jakarta: Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengapresiasi kontribusi dan peran Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) bagi perekonomian nasional. Bahkan dia menyebut bahwa UMKM menjadi tulang punggung perekonomian.

    "Data BPS (Badan Pusat Statistik), menunjukkan bahwa UMKM memberikan kontribusi sebanyak 60 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) dan penyerapan tenaga kerja sebesar 90 persen," ungkap Teten dalam acara Konferensi 500 Ribu Eksportir Baru secara virtual, Senin, 19 April 2021.






    Namun demikian, Teten masih menyayangkan kontribusi UMKM terhadap ekspor yang masih rendah, yakni hanya sebesar 14,37 persen. Angka ini masih jauh tertinggal bila dibandingkan rata-rata kontribusi pelaku usaha di negara-negara Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

    Padahal nilai ekspor RI di sepanjang 2020 mencapai sebesar USD163,31 miliar atau turun 2,61 persen (yoy). Meski melorot, pemerintah masih menatap optimisme lantaran neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus sebanyak USD21,74 miliar.

    "Kontribusi ekspor dari para pelaku UMKM kita masih relatif rendah yaitu 14,37 persen. Ini masih tertinggal kalau dibandingkan dengan negara-negara APEC yang sudah mencapai 35 persen," tuturnya.

    Teten menjelaskan bahwa sebanyak 86 persen eksportir adalah pelaku dengan skala usaha besar. Sementara pelaku UMKM masih kesulitan menembus pasar ekspor karena minimnya pengetahuan tentang pasar luar negeri, kualitas produk, kapasitas produksi, biaya sertifikasi yang tidak murah, hingga kendala logistik.

    "Saya kira problem-problem ini sudah lama kita ketahui, tapi kita perlu bergerak mencari solusi terhadap masalah ini. Kolaborasi saya kira bisa mencari solusi dengan cepat terhadap masalah-masalah ini," tuturnya.

    Lebih lanjut Teten menyebutkan tantangan UMKM yang kesulitan menembus pasar ekspor adalah kenaikan tarif pengiriman barang sebesar 30 persen hingga 40 persen. Ditambah dengan berkurangnya jadwal kapal dan penerbangan internasional akibat pandemi covid-19, terganggunya sistem logistik dunia ini menyebabkan volume ekspor-impor berkurang tajam.

    Untuk mengatasi kendala biaya logistik, pemerintah langsung bergerak untuk bekerja sama dengan PT Garuda Indonesia. Kementerian Koperasi dan UKM juga mendorong para pelaku UMKM untuk berani melakukan ekspor, termasuk memanfaatkan teknologi informasi seperti lokapasar (marketplace).

    "Kami juga mendukung para UMKM untuk melaksanakan ekspor, tidak hanya melalui kontainer secara mandiri tetapi juga penjualan langsung melalui marketplace seperti Amazon, Lazada, dan lain-lain," pungkas Teten.

    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id