LPDB KUMKM Gelontorkan Rp1,1 Miliar untuk Petani Salak Madu di Sleman

    Eko Nordiansyah - 15 November 2020 13:07 WIB
    LPDB KUMKM Gelontorkan Rp1,1 Miliar untuk Petani Salak Madu di Sleman
    LPDB-KUMKM menggelontorkan dana bergulir sebesar Rp1,1 miliar bagi petani salak madu. Foto: Dok. LPDB-KUMKM
    Jakarta: Lembaga Pengelola Dana Bergulir Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menggelontorkan dana bergulir sebesar Rp1,1 miliar bagi Koperasi Syariah Serba Usaha (KSSU) BMT Mitra Usaha Mulia (MUM). Mayoritas anggota dari koperasi ini merupakan petani salak madu.

    "Kita akan terus fokus dalam memperkuat permodalan koperasi berkualitas. Terlebih lagi, para anggotanya banyak bergerak di sektor usaha pertanian. Seperti para petani salak madu ini," kata Direktur LPDB-KUMKM Supomo dalam keterangan resminya, Minggu, 15 November 2020.

    BMT Mitra Usaha Mulia berdiri sejak 1996 dengan anggota sebanyak 7.000 anggota di tingkat nasional saat ini. Sebelumnya, BMT Mitra Usaha Mulia sudah dua kali mendapatkan pembiayaan dana bergulir di 2010 sebesar Rp1 miliar dan 2015 sebesar Rp2 miliar. Pengembalian keduanya terhitung lancar dan sudah lunas.

    Tak hanya itu, BMT Mitra Usaha Mulia juga sudah menerapkan layanan anggota secara digital, lewat aplikasi MUM Mobile (PayBMT, M-BMT) yang bisa diakses melalui handphone. Dalam kesempatan yang sama, didampingi oleh Direktur Pembiayaan Syariah Ari Permana, Supomo mengunjungi salah satu kebun Salak Madu milik Maryanto yang merupakan anggota dari BMT Mitra Usaha Mulia di daerah Tempel.

    Salah seorang pengelola Maryanto menjelaskan, perkebunan salak madu seluas kurang lebih dua hektare itu dikelola mulai dari awal tanam, pemeliharaan pohon, hingga masa panen. Ia juga menjelaskan, bagaimana cara menghasilkan perkawinan silang antar salak yang mampu menghasilkan buah salak berkualitas tinggi.

    "Saat ini, salak madu tengah banyak diminati pasar. Permintaan salak madu terus meningkat," ungkap Maryanto.

    Menurut Maryanto, harga salak madu per kilogram (kg) sebesar Rp9 ribu. Namun, bila sudah masuk minimarket atau supermarket modern, harganya bisa mencapai Rp12 ribu per kg. Bahkan, ketika permintaan salak madu sangat tinggi, harganya pernah mencapai Rp25 ribu per kg.

    Maryanto menambahkan, dalam tiga hari, kebun miliknya bisa menghasilkan salak madu hingga satu ton. Adapun pangsa pasarnya tak hanya untuk toko oleh-oleh yang ada di provinsi Yogyakarta, melainkan sudah menembus pasar di Jakarta, Surabaya, Bali, hingga Jambi.

    "Permintaan terbanyak dari Bali, karena di Bali ada budaya keagamaan sesaji yang berisi buah-buahan. Salah satu buahnya adalah Salak Madu dari Sleman," pungkas Maryanto.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id