Penyebab Utang PLN Membengkak hingga 10 Kali Lipat

    Suci Sedya Utami - 26 Juni 2020 11:23 WIB
    Penyebab Utang PLN Membengkak hingga 10 Kali Lipat
    Foto: dok PLN.
    Jakarta: Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini membeberkan penyebab utang PLN mengalami peningkatan signifikan dalam waktu lima tahun terakhir. Utang perseroan melonjak drastis 10 kali lipat.

    Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Zulkifli mengatakan lima tahun sebelumnya utang PLN di bawah Rp50 triliun. Namun di akhir 2019, dia menyebutkan utang perusahaan setrum ini mendekati nominal Rp500 triliun.

    "Lima tahun lalu utang PLN secara minimal enggak sampai Rp50 triliun," kata Zulkifli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis, 25 Juni 2020.

    Zulkifli mengatakan penyebab membengkaknya utang tersebut yakni karena dalam lima tahun terakhir PLN membiayai investasinya dengan utang. Ia bilang ekuitas internal kosong sehingga PLN terpaksa berutang.

    Ia bilang pinjaman tersebut dilakukan untuk membiayai investasi PLN dalam menggarap proyek-proyek ketenagalistrikan terutama proyek 35 ribu megawatt (MW). Proyek tersebut merupakan program yang dicanangkan Presiden Joko Widodo pada kepemimpinan awal.

    Baca: Utang Capai Rp500 Triliun, Dirut Akui Keuangan PLN tak Sehat

    PLN mendapatkan penugasan untuk membangun proyek tersebut. Namun di sisi lain diakui Zulkifli, PLN tidak memiliki kemampuan membangun dengan dana internal perusahaan. Alhasil, hampir tidak ada dana internal PLN untuk membangun proyek tersebut.

    "Lima tahun ini PLN membiayai investasinya dengan utang. Karena utang setiap tahun, maka utang PLN di akhir 2019 kemarin mendekati Rp500 triliun," ujar Zulkifli.

    Menurut dirinya, di 2019 terdapat tambahan pembangkit dari Independent Power Producer (IPP) atau produsen listrik swasta. Dengan adanya tambahan IPP tersebut diperlukan dalam sistem Jawa Bali. Ia mengatakan investasi pembangkit membutuhkan dana Rp100 triliun per tahun yang diakui sulit bagi PLN untuk bisa memenuhinya sendiri.

    "Tambahan pembangkit itu per tahun investasinya sekitar Rp90 triliun hingga Rp100 triliun. Transmisi dan distribusi Rp50 triliun hingga Rp60 triliun. Nah, kebutuhan investasi pembangkit dan juga investasi itu Rp150 triliun-Rp160 triliun enggak akan bisa dipenuhi oleh PLN sepenuhnya," ucap Zulkifli.

    Baca: Hindari Kebangkrutan, PLN Desak Pemerintah Bayar Utang Rp48 Triliun

    Sebagai mantan bankir, Zulkifli mengatakan kondisi keuangan ini tidaklah sehat bagi perusahaan yang memiliki utang dengan rasio tinggi. Namun kecukupan modal dari dana internal rendah bahkan nyaris tidak ada. Ia bilang minimalnya perusahaaan memiliki dana internal 30 persen dari nilai investasi yang ingin dilakukan.

    "Sebagai bankir saya paham ini enggak sehat. Kalau ada debitur datang ke bank, mau investasi Rp100 triliun saya tanya 'dana sendiri berapa', saya minta 30 persen kan. Tapi ini kan cash-nya PLN dana sendiri nol persen, pinjaman 100 persen. Ini kondisinya," pungkas mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini.



    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id