Penjualan Pupuk Indonesia Terhambat Covid-19

    Husen Miftahudin - 20 Juli 2020 15:23 WIB
    Penjualan Pupuk Indonesia Terhambat Covid-19
    Ilustrasi. Foto: Dok.Pupuk Indonesia
    Jakarta: Direktur Keuangan PT Pupuk Indonesia (Persero) Indarto Pamoengkas mengakui penjualan perusahaan selama masa pandemi covid-19 terhambat. Sejumlah klien korporasi berhenti berproduksi lantaran adanya kebijakan karantina wilayah (lockdown).

    "Beberapa klien kami khususnya klien korporasi sedikit terganggu penjualannya karena beberapa negara tujuan ekspor mereka seperti ke Tiongkok dan India terkena dampak akibat adanya lockdown," ujar Indarto dalam telekonferensi di Jakarta, Senin, 20 Juli 2020.

    Meskipun demikian, ia memastikan hambatan tersebut hanya berdampak kecil bagi pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Bahkan hingga Mei 2020, pendapatan Pupuk Indonesia meningkat sekitar 10 persen secara tahunan (yoy).

    "Kami secara year on year (yoy) sampai dengan Mei dari pendapatan kami sudah ada peningkatan kurang lebih 10 persen (yoy). Harapan kami sampai akhir tahun kami dapat survive walaupun di tengah pandemi," ungkapnya.

    Pupuk Indonesia mencatat penjualan pupuk Public Service Obligation (PSO) pada Januari-Mei 2020 sebesar 3,93 juta ton. Sedangkan volume penjualan pupuk komersil berhasil melonjak 47,45 persen, dari 1,37 juta ton menjadi 2,01 juta ton dibandingkan kurun waktu yang sama di 2019.

    Secara pendapatan, penjualan pupuk komersial meningkat 38,35 persen menjadi Rp7,54 triliun dari Rp5,45 triliun. Kemudian pendapatan jasa juga meningkat 34,53 persen menjadi Rp4,13 triliun dari Rp3,07 triliun. Sementara itu, laba tahun berjalan tumbuh 11,7 persen menjadi Rp1,6 triliun dari Rp1,43 triliun.

    "Kekurangan di tempat yang lain tentunya kami terus mencari kompensasi untuk meningkatkan penjualan maupun laba dari tempat yang lain. Adanya pandemi covid-19 ini kami anggap sebagai tantangan untuk bisa meningkatkan sales (penjualan) kami di tahun ini melalui berbagai cara dari tempat-tempat yang lain yang memungkinkan kami berjualan," tegas Indarto.

    Senada, Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat menyatakan kinerja perusahaan selama masa pandemi covid-19 relatif hampir sama dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kinerja penjualan, produksi, dan perolehan laba untuk periode Januari sampai dengan Mei 2020 bahkan lebih baik dari periode yang sama 2019.

    "Mudah-mudahan ini tetap kita pertahankan dan tetap berusaha bahwa dengan adanya gangguan dari covid-19 ini kita tetap mencari strategi agar kita bisa keluar. Ini juga merupakan pesan dari Pak Menteri BUMN (Erick Thohir) bahwa dalam keadaan seperti ini kita tidak boleh loyo, harus semangat. Ini harus dijadikan tantangan dan peluang. Atas arahan tersebut kami yang ada di Pupuk Indonesia Grup harus dianggap sebagai peluang. Turun di satu tempat, kita cari penggantinya," pungkas Aas.

    Saat ini, Pupuk Indonesia memiliki sejumlah proyek pengembangan strategis. Perseroan membangun pabrik NPK di Lhokseumawe, Aceh dengan kapasitas 500 ribu ton per tahun; pabrik NPK di Palembang, Sumatra Selatan dengan kapasitas 2x100 ribu ton per tahun; pabrik CO2 Cair di Cikampek, Jawa Barat dengan kapasitas 50 ribu ton per tahun; dan pabrik Ammonium Nitrat di Bontang, Kalimantan Timur dengan kapasitas 75 ribu ton per tahun.

    Sejumlah proyek ini dikembangkan dalam rangka mengantisipasi kebutuhan pupuk yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu proyek-proyek tersebut juga ditujukan untuk diversifikasi produk kimia potensial dan turunannya.

    (DEV)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id