Melambatnya Impor Bisa Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

    Antara - 16 Maret 2020 21:13 WIB
    Melambatnya Impor Bisa Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Illustras impori. Foto : MI/Abdul.
    Jakarta: Pengamat ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Fajar Hirawan mengatakan kinerja impor barang modal dan bahan baku yang menurun berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I-2020 melambat yakni di bawah lima persen.

    "Pertumbuhannya bahkan lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2019," katanya dihubungi Antara, di Jakarta, Senin, 16 Maret 2020.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2019 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 4,97 persen. Prediksi doktor ekonomi lulusan Universitas Sydney, Australia, itu berawal dari surplus ekonomi RI pada Februari 2020 yang mencapai 2,33 miliar dolar AS berdasarkan rilis dari BPS.

    Meski tumbuh menggembirakan, namun menurut dia hal itu perlu diwaspadai karena impor ternyata mengalami penurunan. BPS mencatat selama Januari-Februari 2020 nilai ekspor mencapai USD27,57 miliar atau naik 4,1 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Secara bulanan, per Februari nilai ekspor mencapai USD13,9 miliar atau melonjak 11 persen jika dibandingkan periode sama di 2019.

    Sedangkan impor secara kumulatif Januari-Februari nilainya mencapai USD25,8 miliar atau turun 4,95 persen. Impor Februari 2020 mencapai USD11,6 miliar atau turun 5,1 persen jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

    Berdasarkan penggunaannya, impor selama Januari-Februari 2020 turun pada golongan bahan baku/penolong sebesar USD981,2 juta atau turun 4,8 persen dan barang modal sebesar USD483,7 juta atau turun 10,6 persen.

    Dengan menurunnya kinerja impor untuk barang modal itu, ia memprediksi sektor investasi paling terdampak dan berpengaruh kepada konsumsi masyarakat.

    "Yang terjadi dua bulan terakhir pertumbuhan impor kan mengalami perlambatan atau negatif. Kondisi ini sangat berbahaya bagi kelangsungan industri pengolahan (manufaktur) yang bergantung pada impor bahan baku/penolong," katanya.

    Ia menyebut impor bahan baku/penolong berkontribusi sekitar 70 persen dari total impor Indonesia dan salah satu pemasoknya berasal dari Tiongkok. Sedangkan negeri itu saat ini ekonomi terpukul karena covid-19 dari sisi produksi maupun distribusi/logistik.

    "Untuk sektor konsumsi akan mengalami peningkatan signifikan sebagai dampak panik atau rush buying dan selanjutnya mengalami perlambatan, sehingga akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," ucapnya.

    BPS mencatat Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar yang menguasai 26,7 persen dari 13 negara utama, sehingga penurunan impor paling dalam berasal dari Tiongkok sebesar 17,7 persen disusul Jepang 9,8 persen, dan India 14,4 persen.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id