comscore

Cerita Luhut saat Indonesia Berjuang Melawan Pandemi Covid-19

Husen Miftahudin - 25 Januari 2022 18:24 WIB
Cerita Luhut saat Indonesia Berjuang Melawan Pandemi Covid-19
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan. Foto: MI/Barry Fatahilah
Jakarta: Wabah pandemi covid-19 sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya. Di awal merebaknya pandemi, semua negara terkejut karena penyebarannya yang cepat. Lebih dari lima juta jiwa di dunia terenggut, begitu juga Indonesia yang kehilangan 140 ribu warganya akibat meluasnya penyebaran covid-19.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menceritakan, pada akhir 2020 banyak yang berharap distribusi vaksin di 2021 dapat mempercepat pemulihan ekonomi akibat pandemi.

 



"Namun, distribusi vaksin dan kecepatan suntik yang tidak merata antarnegara menyebabkan munculnya varian baru," ujar Luhut dalam Economic Outlook yang diselenggarakan Hipmi, Selasa, 25 Januari 2022.

Luhut melanjutkan, varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India pada pertengahan 2021 dan masuk ke Indonesia menyebabkan gelombang kedua. Kondisi tersebut membuat kasus melonjak tiga kali lebih tinggi dibandingkan gelombang pertama.

"Sesuai dengan tingkat transmisinya yang lebih tinggi, dengan cepat rumah sakit Indonesia penuh dengan pasien covid-19 dan banyak yang tidak dapat ditangani atau mendapat oksigen," tuturnya.

Beruntung pemerintah dalam mengendalikan covid-19 gelombang kedua dengan melakukan pengetatan pergerakan masyarakat melalui penerapan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat (PPKM Darurat) yang diimplementasikan dengan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, penegak hukum, ahli, dunia usaha, dan masyarakat.

Belajar dari pengalaman gelombang pertama, PPKM juga direlaksasikan secara perlahan atau per level sesuai keparahan tingkat penyebaran covid-19. Vaksinasi dan 3T (testing, tracing, dan treatment), termasuk melalui PeduliLindungi terus digalakkan sehingga ekonomi dapat dibuka dengan aman.

Selanjutnya muncul varian Omicron. Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada akhir November 2021 yang membuat seluruh negara termasuk Indonesia waspada. Berdasarkan pengamatan awal, Omicron berpotensi lebih mudah menular karena memiliki karakteristik immunity escape dari vaksin.

"Di sisi lain, sejauh ini gejala yang ditimbulkan cenderung masih ringan. Namun kita tidak boleh menganggap enteng ini," ucap Luhut.

Menurutnya, varian Omicron bukanlah satu-satunya ketidakpastian yang dihadapi di 2022. Berbagai tantangan global semkain kompleks dan nyata di depan mata seperti ancaman penurunan likuiditas dari tapering off, default di sektor properti Tiongkok, hingga ancaman perubahan iklim.

Ketika sedang menghadapi covid-19, semua pihak tidak dapat menghindari ketidakpastian. Semua pihak hanya dapat menyiapkan ekonomi Indonesia agar tahan menghadapi berbagai tekanan ekonomi ini.

"Pemulihan ekonomi dan transfromasi ekonomi dilakukan secara berdampingan dengan mempertimbangkan tantangan global yang semakin besar," tutup Luhut.
 

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id