Mendag: Bagaimana Mau Bersaing Kalau Harga Hijab Impor Rp1.900!

    Husen Miftahudin - 05 Maret 2021 20:13 WIB
    Mendag: Bagaimana Mau Bersaing Kalau Harga Hijab Impor Rp1.900!
    Menteri Perdagangan M Lutfi - - Foto: Antara/ Ismar Patrizki



    Jakarta: Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi bakal melaksanakan tertib niaga dengan menertibkan predatory pricing di platform jual beli daring (e-commerce). Hal ini dilakukan guna menata produk-produk impor yang masuk ke Indonesia.

    Langkah ini juga sejalan dengan perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menggaungkan benci produk asing. Upaya menertibkan predatory pricing di e-commerce memang diperlukan agar produk-produk dalam negeri tidak tergerus oleh produk asing.






    "Hijab datang ke Indonesia dilakukan dengan spesial diskon, yang saya katakan dalam istilah perdagangan namanya predatory pricing. Masuk ke Indonesia harganya Rp1.900, bagaimana kita bersaing," ketus Lutfi dalam acara Rakernas Hipmi XVII dengan tema Berinovasi Bangkitkan Ekonomi, Jumat, 5 Maret 2021.

    Praktik tersebut diketahui dari artikel World Economic Forum yang mengulas tentang tumbuhnya industri fesyen Islam di Indonesia. Padahal, praktik tersebut dilarang dalam mekanisme perdagangan internasional.

    Dalam perdagangan internasional, jelas Lutfi, mekanisme perdagangan harus memenuhi dua asas. Pertama asas keadilan. Asas ini menuntut setiap pelaku perdagangan untuk bertindak adil dalam setiap mekanisme perdagangannya.

    "Kedua, memastikan perdagangan bermanfaat bagi yang jual ataupun yang beli. Kalau hanya bagi yang jual, artinya jadi tidak bermanfaat, itu namanya pemaksaan," ungkap dia.

    Dari unsur usaha, impor hijab seharga Rp1.900 juga merugikan produsen dalam negeri. Produsen tersebut tak akan bisa bersaing lantaran kalah harga pada penjualan hijab yang serupa.

    Oleh karena itu, Lutfi ingin menegakkan keadilan dalam mekanisme perdagangan dengan menertibkan predatory pricing di platform e-commerce. Bila dihitung dari sisi bea masuk dan bea keluar, itu pun sudah jauh berbeda. Kondisi ini yang menyebabkan produk dalam negeri sulit bersaing.


    "Jadi setelah kita hitung, barang yang masuk dari luar negeri itu hanya membayar bea USD44 ribu. Sedangkan si pengusaha dalam negeri mengeluarkan modal untuk bayar gaji lebih dari USD650 ribu. Jadi ini yang sebenarnya dibenci Pak Jokowi, aksi ini yang tidak boleh," tegas Lutfi.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id