Surplus Neraca Perdagangan RI Dorong Penerimaan Negara

    Antara - 17 April 2021 17:00 WIB
    Surplus Neraca Perdagangan RI Dorong Penerimaan Negara
    Ilustrasi penerimaan negara bukan pajak - - Foto: dok MI



    Jakarta: Pengamat ekonomi Center of Reform of Economics (Core) Yusuf Rendi Manilet menilai surplus neraca perdagangan RI selama 2021 berdampak positif pada penerimaan negara.

    Yusuf mengatakan meski kontribusi surplus perdagangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tidak sebesar kontribusi dari konsumsi rumah tangga. Namun surplus neraca perdagangan cukup berdampak baik dalam mendorong pertumbuhan penerimaan negara.






    “Meskipun kontribusi ke perekonomiannya masih relatif kecil tetapi perbaikan surplus perdagangan ini secara tidak langsung berdampak positif terhadap beberapa pos pada penerimaan negara,” kata Yusuf dikutip dari Antara, Sabtu 17 April 2021.

    Ia mengungkapkan bahwa pos penerimaan negara seperti penerimaan negara bea keluar dan penerimaan negara bukan pajak seperti nonmigas mengalami pertumbuhan pada beberapa bulan terakhir.

    Faktor yang menyebabkan terjadinya surplus perekonomian Tanah Air selama tiga bulan terakhir, lanjut dia, adalah perbaikan perekonomian global dan perbaikan harga komoditas yang mendorong perbaikan ekspor dalam negeri meningkat.

    “Tiongkok salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, sehingga perbaikan perekonomian Tiongkok akhirnya bermuara terhadap neraca dagang kita khususnya perbaikan ekspor di dalam negeri,” ungkapnya.

    Begitu juga dengan perbaikan harga komoditas-komoditas seperti batu bara, CPO, dan tembaga yang kebetulan merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia.

    “Kalau kita lihat ekspor memang tak terlepas dari kedua faktor tadi, tidak hanya produk ekspor komoditas seperti batu bara, tetapi kalau kita lihat datanya permintaan ekspor untuk produk industri juga mengalami peningkatan,” jelas Yusuf.


    Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada Maret 2021. Nilai ekspor pada Maret sebesar USD18,35 miliar, melebihi nilai ekspor tertinggi pada Agustus 2011 yang kala itu mencapai USD18,64 miliar. Sedangkan impor pada Maret sebesar USD16,79 miliar, naik 26,55 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sehingga selama Maret surplus neraca perdagangan RI mencapai USD1,57 miliar.

    Kepala BPS Suhariyanto menyebut surplus ini merupakan yang ketiga kalinya dalam 2021 dan lebih baik dibandingkan Maret 2020 maupun 2019 yang hanya mencapai USD0,7 miliar. Ia mengatakan sepanjang kuartal I, surplus perdagangan Indonesia mencapai USD5,52 miliar dengan capaian ekspor naik sebesar 17,11 persen dan impor naik 10,76 persen.

    “Indikator ekspor-impor ini menunjukkan industri manufaktur mulai bergerak, investasi bergerak, dan mudah-mudahan 2021 ekonomi Indonesia akan pulih,” kata Suhariyanto.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id