Industri 4.0, Vokasi Ikuti Kebutuhan Dunia Usaha

    Ade Hapsari Lestarini - 23 November 2020 18:11 WIB
    Industri 4.0, Vokasi Ikuti Kebutuhan Dunia Usaha
    Foto: Grafis Medcom.id
    Jakarta: Pendidikan vokasi dinilai sudah mengalami pergeseran zaman. Perbedaan kerangka berpikir beberapa puluh tahun silam dengan perkembangan masa kini adalah karena pendidikan tidak seperti dulu lagi.

    "Kita bukan lagi berada di era mekanik dan era produksi massal, tetapi sudah berada pada era industri 4.0. Ini adalah era inovasi dan kreasi. Ada sejumlah pekerjaan yang dulunya bukan menjadi pekerjaan atau profesi, sekarang muncul menjadi pekerjaan," ungkap Wakil Ketua Komisi X DPR-RI Abdul Fikri Faqih, dalam keterangan resminya, Senin, 23 November 2020.

    Begitu juga dengan Program Studi (Prodi) di SMK yang kini tidak seluruhnya sesuai dengan jenis pekerjaan yang tersedia. Dirinya berharap ada rumusan arah Prodi di SMK. Seperti yang sudah ada, tentang elektronika, komputer, dan juga komunikasi visual.

    "Di era disrupsi ini perlu juga perlu dirumuskan, seperti apa bentuk sistem vokasional yang mengikat antara SMK dengan kebutuhan dunia usaha. Jadi sistemnya akan mengikuti kebutuhan dunia industri dan dunia usaha," jelas dia.

    Dirinya pun mengingatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ke depan, harus mampu memprediksi dan bersifat fleksibel. Jika nantinya sudah ada peta jalan atau cetak biru maupun grand design maupun peta jalan yang berisi Rencana Induk sistem pendidikan di Indonesia, harus dapat mencakup dinamika yang terjadi.

    "Karena itu kreasi penuh inovasi, perlu diberi ruang bagi terjadinya perubahan-perubahan dalam Rencana Induk, yang saat ini tengah disusun peta jalannya oleh Pemerintah," tambah dia.

    Sesuai UU Nomor 23 tahun 2014, tentang Pemerintahan Daerah, pendidikan menjadi urusan wajib yang menyangkut kebutuhan dasar. Untuk itu perlu ada pembagian wewenang yang lebih jelas, Pemerintah Kabupaten/Kota mengadakan pendidikan pada tingkatan SMP (Sekolah Menengah Pertama) sampai ke PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

    "Sedangkan pemerintah pusat berkonsentrasi mengadakan perguruan tinggi. Pemikiran ini dianggap cukup proporsional, kendati kami dari Dewan juga setuju, jika vokasi memperoleh porsi besar sampai 70 persen," ujarnya.

    Oleh karena itu, hal yang diperlukan adalah bentuk kebijakan umum yang ditentukan dari Pemerintah Pusat, sambil memberi kelonggaran kepada Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota, agar mereka dapat melakukan kebijakan yang lebih detail. Sampai saat ini sejumlah SMK itu baru ada di tingkat kabupaten/kota. Namun demikian kebutuhan vokasi jangan hanya disandarkan kepada pihak industri.

    "Karena itu sebaiknya, kita semua memanfaatkan potensi lokal desa, kendati belum ada acuan (tuntunannya). Apalagi SMK yang orientasinya kepada desa hanya SMK Pertanian. Berorientasi pada desa itu bagus, mengingat ada anggaran yang bergulir ke desa, yang nilainya lebih dari Rp1 miliar untuk satu desa. Karena itu pemanfaatannya harus diikuti dengan program pemberdayaaan desa, yang diikuti juga dengan peningkatan kapasitas SDM," paparnya.

    Dia menuturkan dalam upaya mendorong inovasi di bidang pertanian, di era pandemi ini sektor pertanian termasuk salah satu bidang yang potential winner dan sanggup bertahan. Sektor pertanian mampu bertahan di tengah pandemi, bersama sektor industri makanan dan minuman (food and beverage).

    "Langkah yang perlu dilakukan di era digital ini adalah bagaimana menghubungkan antara para pedagang sayur atau petani sayur secara daring (online), yang difasilitasi aksesnya dengan pengusaha yang membutuhkan pasokan mereka, seperti pengusaha makanan dan minuman. Jadi orientasi pendidikan tidak hanya ditujukan bagi siswa (pelajar) dan mahasiswa, tetapi perlu juga mengedukasi tentang bisnis digital kepada para petani dan pedagang bidang pertanian," pungkasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id