PMI Manufaktur Tembus Level 54,6, Manufaktur RI Sedang Ekspansif

    Husen Miftahudin - 03 Mei 2021 22:14 WIB
    PMI Manufaktur Tembus Level 54,6, Manufaktur RI Sedang Ekspansif
    Foto: dok MI.



    Jakarta: IHS Markit mencatat Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia menembus level 54,6 pada April 2021. Capaian tersebut naik signifikan dibanding posisi Maret 2021 yang berada di posisi 53,2. PMI di atas angka 50 mencerminkan sektor industri sedang ekspansif.

    "Selama ini sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi motor penggerak roda perekonomian nasional. Oleh karena itu, diperlukan perhatian lebih dalam rangka meningkatkan kinerjanya," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam siaran persnya, Senin, 3 Mei 2021.






    Menurutnya, kenaikan posisi PMI Manufaktur menandakan produktivitas kian bergeliat guna memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor. "Di tengah hantaman dampak pandemi covid-19, laju aktivitas industri terus dipacu guna mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional," tegas Agus.

    Sementara itu, Direktur Ekonomi HIS Markit Andrew Harker mengatakan bahwa produksi manufaktur Indonesia terus meningkat pada April 2021 di tengah-tengah ekspansi permintaan baru yang sangat kuat.

    "Yang menggembirakan, total bisnis baru didukung oleh kenaikan pertama pada ekspor sejak pandemi covid-19 melanda karena permintaan internasional menunjukkan tanda-tanda perbaikan," ungkap Andrew.

    Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-Maret 2021, nilai ekspor industri pengolahan menembus hingga USD38,96 miliar atau tumbuh 18,06 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu. Sektor manufaktur ini menjadi kontributor terbesar pada nilai ekspor nasional, yakni mencapai 79,66 persen.

    Terkait PMI manufaktur Indonesia di bulan keempat, IHS Markit juga mencatat, output, permintaan baru, dan pembelian naik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya selama periode survei sepuluh tahun, sementara permintaan ekspor baru kembali tumbuh setelah 16 bulan periode penurunan.

    Optimisme bahwa output akan terus naik pada tahun yang akan datang kembali menyebar, dengan tiga perempat panelis memperkirakan ekspansi. Kepercayaan diri berpusat pada harapan bahwa pandemi covid-19 akan berakhir pada tahun mendatang, memungkinkan kenaikan lanjutan pada permintaan baru.

    Di samping itu, bisnis baru mengalami ekspansi substansial, dan sejauh ini merupakan laju tercepat sejak survei dimulai pada April 2011. Perusahaan sering menyebutkan perbaikan pada permintaan pelanggan. Terlebih lagi, total permintaan baru didorong oleh kembalinya bisnis baru dari luar negeri.

    "Bahkan, dengan bisnis baru mengalami ekspansi tajam, perusahaan manufaktur juga menaikkan volume produksi mereka. Sebagaimana halnya dengan permintaan baru, kenaikannya merupakan yang paling tajam," papar dia.

    Berikutnya, rekor kenaikan pada aktivitas pembelian juga terjadi karena perusahaan menanggapi arus pesanan baru yang masuk. Sementara itu, waktu pengiriman dari pemasok secara umum tidak berubah pada April 2021, menandakan bahwa gangguan pada rantai pasokan mulai berkurang.

    "Hal ini membantu perusahaan melakukan ekspansi stok pembelian, sehingga mengakhiri 15 bulan periode penurunan inventaris pra-produksi," tutup Andrew.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id