Digitalisasi Jadi Agenda Prioritas Majukan Koperasi

    Ilham wibowo - 26 Oktober 2020 13:04 WIB
    Digitalisasi Jadi Agenda Prioritas Majukan Koperasi
    Menteri koperasi dan UKM Teten Masduki menyaksikan implementasi digitalisasi koperasi di KSP Kopdit Obor Mas NTT. Foto: Dok. Kemenkop UKM
    Maumere: Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan bahwa pengelolaan koperasi harus diimbangi dengan pemanfaatan teknologi agar masuk ke ekosistem ekonomi digital. Selain pengembangan kegiatan usaha, daya tahan menghadapi situasi pandemi covid-19 juga akan meningkat.

    "Siapa yang bisa mengikuti perkembangan zaman, akrab dengan industri 4.0, ia atau usahanya akan maju dan berkembang," kata Teten dalam peluncuran digitalisasi laporan keuangan KSP Koperasi Kredit (Kopdit) Obor Mas Maumere, di Maumere, Senin, 26 Oktober 2020.

    Teten mengatakan digitalisasi menjadi agenda prioritas pemerintah untuk mencapai efisiensi dan efektivitas layanan koperasi tanpa harus merubah nilai-nilai dasar koperasi. Hingga saat ini, baru sekitar 0,73 persen dari jumlah koperasi aktif di Indonesia yang memiliki alamat website.

    "Tantangan terbesar kita, minimnya koperasi yang memanfaatkan ekosistem digital ini dalam pengelolaan koperasinya," ujarnya.

    Menurut Teten, transformasi digital perlu didukung kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha dan komunitas masyarakat. Perputaran kegiatan ekonomi perlu dipastikan bisa berkelanjutan melalui koperasi.

    "Kita menyaksikan salah satu implementasi digitalisasi koperasi yaitu peluncuran digitalisasi laporan keuangan di KSP Kopdit Obor Mas. Saya mengapresiasi karena selain memfasilitasi pembiayaan murah ke anggota, KSP Kopdit Obor Mas juga selalu melakukan gebrakan digitalisasi bagi anggotanya,” ungkapnya.

    KSP Kopdit Obor Mas telah mendapatkan pinjaman dari LPDB-KUMKM sebesar Rp150 miliar, dan merupakan satu dari sekian banyak koperasi yang dipercaya untuk menyalurkan dana KUR. Teten mengharapkan fasilitas pinjaman dapat diakses dengan mudah oleh anggota yang sebagian besar bergerak di bidang sektor riil.

    "Secara khusus saya hendak mengajak bapak ibu mengembangkan Koperasi Pangan di NTT. Bisnis modelnya adalah petani bergabung dalam suatu kelembagaan koperasi, petani dapat fokus bercocok tanam dan meningkatkan kualitas dan jumlah produksinya,” paparnya.

    Sedangkan pengolahannya, lanjut Teten, sampai ke produk akhir bisa dikelola oleh koperasi yang bertindak sebagai aggregator, avalist atau offtaker dari produk petani. Konektivitas dengan perusahaan yang lebih besar pun akan meningkatkan akses pasar.

    "Pemerintah menyalurkan bantuan modal melalui koperasi, makanya teruslah bergabung dalam koperasi," tuturnya. 

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id