Ekspor Tekstil RI ke Seluruh Dunia Merosot Tajam

    Antara - 27 Oktober 2020 17:59 WIB
    Ekspor Tekstil RI ke Seluruh Dunia Merosot Tajam
    Ilustrasi ekspor produk tekstil - - Foto: dok Kemenperin
    Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat ekspor produk tekstil Indonesia ke seluruh dunia merosot cukup tajam sebesar 19,92 persen atau menjadi USD03 miliar. Penurunan terdalam terjadi untuk ekspor tekstil ke Turki yakni sebesar 49,79 persen.

    Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Marthin Simanungkalit mengatakan Turki merupakan tujuan ekspor tekstil keenam setelah AS, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Jerman.

    "Ekspor ke Turki USD168,9 juta selama Januari-Agustus 2020, anjlok 49,79 persen dibanding periode sama tahun lalu sebesar USD336,3 juta. Ini patut jadi perhatian terlebih," katanya dikutip dari Antara, Selasa, 27 Oktober 2020.

    Marthin menjelaskan dalam upaya melindungi pasar dalam negerinya, Turki pada April lalu menerapkan additional duties terhadap beberapa produk impor, termasuk produk tekstil. Additional duties tersebut bervariasi mulai dari empat persen hingga 50 persen.

    Kebijakan ini awalnya bersifat sementara dengan masa berlaku hingga 30 September 2020. Namun, Turki memperpanjang kebijakan tersebut hingga akhir Desember 2020. Bea masuk tambahan itu berlaku bagi negara yang belum memiliki perjanjian perdagangan bilateral dengan Turki, dengan Indonesia termasuk di antaranya.

    "Turki secara hati-hati menerapkan penambahan tarif tersebut sehingga tetap berada di bawah bound tarif WTO. Postur tarif yang fleksibel inilah yang membuat kebijakan tarif Turki tidak dapat digugat melalui WTO karena tidak ada aturan yang dilanggar," terang dia.

    Adapun Turki termasuk negara yang lihai mengelola kebijakan perdagangannya. Turki hanya mengikatkan 50,5 tarif bea masuk impornya kepada WTO. Dari keseluruhan pos tarif negara tersebut, 43 persen di antaranya merupakan produk industri.

    "Artinya, sejumlah 49,5 persen pos tarif Turki tidak dikonsesikan bea masuknya kepada WTO. Dengan demikian Turki bebas menaikkan atau menurunkan bea masuk impor tersebut sesuai kepentingan nasionalnya tanpa digugat oleh negara anggota WTO lain," jelas dia.

    Sejak 2014, Turki telah menaikkan tarif rata-rata 26 persen untuk produk furnitur, peralatan medis, perkakas, besi, baja, alas kaki, karpet dan tekstil. Hal itu dilakukan untuk melindungi produk lokal dan meningkatkan penerimaan negara.

    "Tidak mengherankan ketika pandemi, Turki mengaktivasi instrumen tarif sebagai salah satu kebijakan extra ordinary untuk selamatkan industri dalam negeri mereka," katanya.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id