Pemerintah Diminta Perhatikan Regulasi Air Minum Kemasan

    Husen Miftahudin - 19 Februari 2021 12:13 WIB
    Pemerintah Diminta Perhatikan Regulasi Air Minum Kemasan
    Ilustrasi. FOTO: Pexels



    Jakarta: Masyarakat cenderung memanfaatkan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) selama masa pandemi covid-19 sebagai alternatif sumber air minum. Peningkatan konsumsi AMDK dan temuan terkait keberadaan mikro/nano plastik dalam beberapa sampel AMDK perlu juga dicermati dari sisi aspek keamanan penggunaan kemasan plastik pada AMDK.

    Founder and Chairman Indonesia Water Institute (IWI) Firdaus Ali mencontohkan seperti plastik jenis polycarbonat yang didalamnya terkandung Bisphenol A (BPA) yang berfungsi agar botol tidak mudah rusak ketika jatuh. Menurutnya keberadaan BPA dalam AMDK memunculkan kekhawatiran karena kerap dikaitkan dengan risiko gangguan kesehatan.




    "BPA diduga berdampak kepada risiko penyakit gangguan hormon, kanker, kelainan organ reproduksi, dan gangguan sistem imun serta perilaku pada bayi atau anak kecil," ujar Firdaus, dalam keterangan resminya, Jumat, 19 Februari 2021.

    Firdaus mengakui penelitian terkait dengan keberadaan BPA dalam AMDK masih terbatas di Indonesia. Sama seperti temuan mikro plastik atau bahkan nano plastik dalam air minum, khususnya AMDK yang baru tiga tahun terakhir ini marak dibicarakan.

    Di beberapa negara maju, sebutnya, masih memberikan toleransi penggunaan kemasan plastik untuk pangan. Kendati demikian, mereka memberikan restriksi yang ketat dan mewajibkan pihak produsen mencantumkan label notifikasi pada kemasan yang menerangkan bahwa kemasan yang terbuat dari plastik mungkin mengandung BPA dalam kadar yang relatif rendah.

    "Namun tetap harus dihindari untuk konsumen usia belia dan ibu hamil atau menyusui yang biasanya memanaskan air pada wadah plastik dengan peralatan pemanas elektronik atau mengisi air panas ke dalam botol plastik atau bahkan mengkonsumsi AMDK yang ditinggal dalam kendaraan yang terpapar dengan temperatur cukup tinggi," tuturnya.

    "Otoritas harusnya bisa mencerdaskan konsumen melalui informasi dan peringatan pada label misalnya," tambahnya.

    Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mewanti-wanti agar konsumen melihat apakah AMDK yang akan dikonsumsi tersebut telah mencantumkan logo SNI atau belum. "Kalau sudah ada SNI pasti amanlah, karena food grade-nya sudah terpenuhi," sebut Tulus.

    Namun, jika ingin lebih aman dan peduli terhadap konsumen di Indonesia, penerapan label khusus Bebas BPA (BPA Free) menjadi suatu keharusan. Hal ini perlu dilakukan demi melindungi konsumen dari zat yang berbahaya, apalagi toleransi setiap individu terhadap zat berbahaya juga berbeda-beda.

    "Jadi penerapan label BPA Free sangat penting sekali untuk melindungi konsumen dari paparan zat yang berbahaya. Sebab efeknya bukan sekarang, tapi beberapa tahun ke depan baru terlihat," pungkasnya.
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id