Riset LPEI: Ekspor Mi Instan Indonesia Tembus Pasar Nontradisional

    Eko Nordiansyah - 09 Desember 2021 15:10 WIB
    Riset LPEI: Ekspor Mi Instan Indonesia Tembus Pasar Nontradisional
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Renatha Swasty.



    Jakarta: Pandemi covid-19 mendorong berbagai negara menerapkan kebijakan pembatasan kegiatan sosial yang ketat guna menekan mobilitas maupun aktivitas masyarakat di luar rumah. Hal ini semakin mendorong masyarakat untuk menyimpan makanan sebagai bentuk antisipasi diperpanjangnya pembatasan sosial, salah satunya adalah mi instan yang sangat populer.

    Menurut unit riset Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Indonesia Eximbank Institute (IEB Institute), konsumsi mi instan global mencapai 116,56 miliar porsi. Indonesia berada di peringkat kedua dengan mengonsumsi 12,6 miliar porsi atau setara dengan 10,84 persen konsumsi dunia di 2020 berdasarkan World Instant Noodle Association.

     



    Kepala Divisi IEB Institute LPEI, Rini Satriani mengatakan, Indonesia tidak hanya mengkonsumsi untuk di dalam negeri saja tetapi mi instan Indonesia sudah diekspor dengan tren yang meningkat termasuk ke pasar nontradisional. Pada 2020, total ekspor mi instan Indonesia mencapai USD271,34 juta.

    "Jumlah ini meningkat 22,96 persen year on year (yoy) dari 2019 yang sebesar USD220,7 juta. Data terkini menunjukkan nilai ekspor kumulatif Januari-September 2021 tercatat sebesar USD185,04 juta," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 9 Desember 2021.

    Ekspor mi instan Indonesia pada 2020 sebagian besar ditujukan ke Malaysia sebesar 31,40 persen, diikuti Australia 9,84 persen, Singapura 4,70 persen, Amerika Serikat 4,51 persen, dan Timor Leste 4,25 persen. Ekspor Indonesia ke lima negara tujuan tersebut pada tahun lalu tumbuh positif dan pada tren meningkat selama lima tahun terakhir sejak 2016-2020.

    Berdasarkan pergerakan dan pengamatan data ekspor mi instan 2020-2021, Rini memaparkan, terdapat sejumlah negara tujuan ekspor utama Indonesia yang mencatatkan adanya peningkatan permintaan mi instan dari Indonesia antara lain ke Timor Leste menjadi USD9,78 juta, Kamboja USD7,75 juta, Taiwan USD6,42 juta, Vietnam USD3,29 juta dan Madagaskar USD1,98 juta.

    "Destinasi ini merupakan pasar nontradisional sehingga memberikan sinyal peluang pasar ke depan semakin terbuka tidak hanya untuk mi instan tetapi produk makanan olahan lainnya," ungkap dia.
     
    Sementara data Trade Map, Indonesia merupakan negara peringkat empat eksportir produk pasta (HS-Code 190230) dunia, pada 2020 setelah Tiongkok sebesar 17,55 persen, Korea Selatan 16,75 persen, dan Thailand 8,71 persen. Indonesia menguasai 7,48 persen pangsa ekspor produk pasta dunia.

    "Ekspor produk pasta terbesar Indonesia pada 2020 adalah mi instan dengan porsi 88,49 persen, sisanya adalah pasta jenis lainnya 11,12 persen, soun 0,27 persen dan bihun 0,11 persen. Jadi dapat dikatakan mi instan dan produk pasta lainnya asal Indonesia memiliki cita rasa tersendiri di kalangan penikmat mi maupun pasta di dunia, sesuai dengan slogan LPEI #LokalyangMendunia dan #SalamEkspor," pungkas Rini.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id