Pertumbuhan E-Commerce Belum Sebanding dengan Infrastruktur Transportasi

    Nia Deviyana - 30 November 2021 17:18 WIB
    Pertumbuhan <i>E-Commerce</i> Belum Sebanding dengan Infrastruktur Transportasi
    Ilustrasi transaksi e-commerce - - Foto: dok Medcom



    Jakarta: Volume transaksi e-commerce meningkat pesat di masa pandemi covid-19. Hal ini tercermin dari market share transaksi perdagangan elektronik di Indonesia yang telah mencapai 45 persen dibandingkan negara ASEAN lainnya.

    Pertumbuhan volume ini juga berbanding lurus dengan sejumlah tantangan yang dihadapi ekosistem e-commerce. Wakil Ketua Umum Asperindo Budiyanto Darmastono memaparkan tantangan dari segi pengiriman barang.

     



    Ia bilang pertumbuhan e-commerce yang cukup besar tersebut tidak sebanding dengan infrastruktur transportasi. "Kami melihat infrastruktur transportasi belum memadai secara maksimal, yaitu belum terintegrasinya hub, khususnya di pelabuhan. Laut dan udara belum terintegrasi," katanya dalam webinar Regional Summit 2021 dengan tema Membangun Tulang Punggung Ekspansi E-Commerce, Selasa, 30 November 2021.

    Ia mencontohkan infrastruktur yang belum memadai di wilayah Indonesia Timur seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur. Pengiriman barang di Indonesia Timur yang masih mengandalkan penerbangan selama pandemi terhambat.

    "Banyak penerbangan yang sebelum pandemi sebagai tulang punggung perusahaan kurir mengirim barang lewat udara, selama pandemi, banyak maskapai yang mengurangi penerbangan. Sehingga banyak mengalami keterlambatan di Indonesia timur," ungkapnya.

    Hal ini, menurutnya, menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak, termasuk pemerintah. Bagaimana membangun infrastruktur terutama melalui jalan tol agar segera selesai agar pengiriman barang antara satu daerah ke daerah lain dapat terlaksana dengan cepat dan murah.

    Pada kesempatan yang sama, Associate Vice President of Fulfillment Tokopedia Erwin Dwi Saputra sepakat tantangan bagi e-commerce adalah geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan.

    "Indonesia negara kepulauan. Pembeli bisa di pulau, sementara penjualnya di Jakarta atau di Bandung. Ini tantangan bagi kami untuk memberi layanan yang sama," kata Erwin 

    Ia menambahkan, ketika volume kurir meningkat, seperti volume penjualan UMKM di Tokopedia yang naik 3-5 kali ketika pandemi, maka pengiriman cepat dengan tetap menjaga kualitas produk yang dibeli menjadi tantangan juga.

    "Dia harus packing sendiri kemudian mengirim dengan cepat. Ini tantangan," ujarnya.

    Erwin menuturkan, Tokopedia saat ini bermitra dengan 13 kurir pengiriman dan telah menjangkau 99 persen kecamatan di seluruh Indonesia. Tokopedia memberi solusi kepada pedagang dalam hal logistik, yaitu menyediakan toko cabang yang memberi layanan kepada penjual untuk menitipkan barang di gudang.

    Sementara itu, VP Pengembangan Bisnis Ecommerce dan Kelembagaan JNE Mayland Hendar Prasetyo menyatakan sebagai perusahaan jasa pengiriman, JNE beradaptasi dengan culture society impact yang saat ini terbiasa dengan mobile connectivity.

    "Perusahaan jasa pengiriman harus mengikuti perkembangan jaman. Yang tadinya secara sistem di awal e-commerce berdiri kita di perusahaan jasa pengiriman masih menggunakan resi kertas, harus datang ke counter, sekarang dengan adanya JNE di Indonesia, menjadi rangking ke delapan dalam mobile connectivity," terang Hendar.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id