Menperin: Program Substitusi Impor Dorong Akselerasi Pertumbuhan Industri

    Husen Miftahudin - 05 Mei 2021 20:41 WIB
    Menperin: Program Substitusi Impor Dorong Akselerasi Pertumbuhan Industri
    Subtitusi Impor. Foto : MI.



    Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan keyakinannya terhadap pertumbuhan industri yang bakal masuk ke teritori positif pada kuartal II-2021. Hal ini seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian nasional yang juga mulai bergeliat.

    "Langkah-langkah mengakselerasi program substitusi impor dan mendorong akselerasi pertumbuhan industri pada tahun 2021 ini akan diimplementasikan ke dalam kebijakan dan program strategis untuk dapat dilaksanakan pada tahun 2021," ujar Agus dalam siaran persnya, Rabu, 5 Mei 2021.

     



    Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah meluncurkan program substitusi impor 35 persen pada 2022. Nilai substitusi impor yang ditargetkan adalah sebesar Rp152,83 triliun atau 35 persen dari potensi impor 2019 yang sebesar Rp434 triliun.

    "Langkah-langkah untuk penurunan impor dilakukan melalui substitusi impor dan peningkatan utilisasi sektor industri," paparnya.

    Adapun kebijakan dan program strategis yang akan diimplementasikan Kemenperin pada tahun ini, di antaranya program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Melalui program ini, diharapkan dapat meningkatkan investasi dan menutup pohon-pohon industri yang masih diisi oleh barang-barang impor.

    "Kami juga memfasilitasi pemberian sertifikat Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), yang akan mempermudah Industri Kecil Menengah (IKM) memasukkan produk-produknya ke dalam e-katalog, sehingga akan memperluas pasar mereka," harapnya.

    Kemudian, menerapkan neraca komoditas sebagai salah satu implementasi Undang-Undang Cipta Kerja. Langkah tersebut untuk memastikan bahwa industri bisa dapat bahan baku sesuai yang diinginkan.

    "Jadi untuk mendorong industri dalam negeri, kebutuhan bahan baku bisa diproduksi di dalam negeri," jelas Agus.

    Kebijakan lainnya, yakni penurunan harga gas, program hilirisasi mineral, pengembangan kawasan industri, program pengembangan Digital Capability Center, program pengembangan vokasi industri, program pengembangan IKM, hingga program Bangga Buatan Indonesia.

    Di sisi lain, Agus mengemukakan bahwa sektor industri pengolahan nonmigas masih menjadi motor penggerak roda perekonomian nasional pada kuartal I-2021. Terlihat dari kontribusinya terhadap PDB nasional sebesar 17,91 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sama 2020 yang tercatat sebesar 17,86 persen.

    Selain itu, tercatat nilai ekspor sektor industri pada Januari-Maret 2021 sebesar USD38,95 miliar dan menghasilkan neraca surplus sebesar USD3,69 miliar. Tiga industri yang memberikan nilai terbesar, yakni industri makanan sebesar USD9,68 miliar, industri logam dasar sebesar USD5,86 miliar, serta industri bahan kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar USD4,30 miliar.

    Berikutnya, nilai investasi sektor industri pada periode Januari-Maret 2021 sebesar Rp88,3 triliun, naik 37,97 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai investasi terbesar diberikan oleh industri logam, mesin dan elektronik sebesar Rp31,2 triliun, industri makanan sebesar Rp21,8 triliun, serta industri kimia dan farmasi sebesar Rp9,4 triliun.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id