Penghapusan BBM Premium Dinilai Tepat

    Insi Nantika Jelita - 16 November 2020 10:07 WIB
    Penghapusan BBM Premium Dinilai Tepat
    Foto: dok Pertamina.
    Jakarta: Keinginan pemerintah untuk menghapus Bahan Bakar Minyak (BBM) premium (RON-88) secara bertahap yang akan dimulai pada 1 Januari 2021 dinilai tepat.

    Hal itu diungkapkan pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi. Dia berpendapat premium harus dihapuskan karena BBM tersebut beroktan rendah, yang menghasilkan gas buang dari knalpot kendaraan bermotor dengan emisi tinggi.

    Premium juga masuk dalam emisi tinggi yang tidak ramah lingkungan sehingga membahayakan bagi kesehatan masyarakat. Selain beremisi tinggi, Fahmy menyebut, pengadaan impor BBM premium berpotensi memicu moral hazard yang menjadi sasaran empuk bagi mafia migas berburu rente. Pasalnya, sejak beberapa tahun lalu, BBM premium sudah tidak dijual lagi di pasar international, sehingga tidak ada harga patokan.

    Baca: Pertamina: Penjualan Premium Tidak Kita Hapuskan

    "Pengadaan impor BBM premium dilakukan dengan blending di Kilang Minyak Singapura dan Malaysia yang harganya bisa lebih mahal. Tidak adanya harga patokan bagi premium berpotensi memicu praktek mark-up harga, yang menjadi lahan bagi Mafia Migas untuk berburu rente," jelas mantan anggota Tim Anti Mafia Migas itu, dikutip dari Mediaindonesia.com, Senin, 16 November 2020.

    Fahmy menuturkan dengan tren harga harga minyak dunia masih cenderung rendah, rata-rata di bawah USD40 per barel dan ICP (Indonesia Crude Price) ditetapkan sebesar USD40 per barel, sudah semestinya pemerintah menghapus BBM premium.

    Di sisi lain, Fahmi mengakui bahwa penghapusan BBM premium pada masa pandemi covid-19 akan makin memperberat beban masyarakat karena konsumen harus migrasi pertamax, yang harganya lebih mahal. Apalagi, kata Fahmy, masyarakat pengguna BBM premium merupakan konsumen terbesar kedua setelah konsumen pertalite.

    "Untuk meringankan beban masyarakat, penghapusan BBM di bawah RON-91 harus disertai dengan penurunan harga pertamax RON-92. Bagi Pertamina, sesungguhnya masih ada ruang untuk menurunkan harga BBM pertamax," pungkas Fahmy.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id