Bangun Kilang, Pertamina Butuh Investasi USD48 Miliar

    Suci Sedya Utami - 27 Juni 2020 19:00 WIB
    Bangun Kilang, Pertamina Butuh Investasi USD48 Miliar
    Ilustrasi kilang minyak Pertamina - - Foto: Antara/ Hafidz Mubarak A
    Jakarta: PT Pertamina (Persero) membutuhkan investasi sebesar USD48 miliar untuk membangun enam kilang minyak. Enam kilang tersebut terdiri dari empat kilang untuk revitalisasi atau refinary development master plan (RDMP) dan dua kilang baru atau grass root refinary (GRR).

    CEO Refinery and Petrochemical Subholding PT Kilang Pertamina Internasional Ignatius Tallulembang mengatakan pembangunan kilang tersebut akan menambah kapasitas pengolahan produk bahan bakar minyak (BBM) Pertamina dari satu juta barel per hari (bph) menjadi 1,8 juta-2 juta bph.

    "Saat ini kami berkomitmen untuk membangun kilang berkapasitas 1,8 juta dengan investasi USD48 miliar," kata Ignatius dalam webinar, Sabtu, 27 Juni 2020.

    Namun demikian, Ignatius mengakui Pertamina tidak bisa hanya mengandalkan ekuitas atau dana internal. Karenanya, dibutuhkan mitra atau investor untuk berbagi pendanaan dan risiko.

    Ada beberapa jenis mitra atau investor di antaranya, strategic investor yang berasal dari perusahaan migas ternama. Investor ini biasanya akan terlibat langsung sejak fase awal pembangunan. Mereka juga akan membawa serta keahlian dan teknologi untuk diterapkan di kilang Pertamina.

    Namun, strategic investor biasanya juga akan membawa persyaratan khusus misal membawa atau menawarkan minyak mentah yang dimiliki untuk diolah di kilang Pertamina, atau menawarkan pemasaran bersama terhadap produk-produk kilang tersebut.

    Kemudian financial investor yang hanya fokus pada profit. Intervensi investor jenis ini sangat minim dan memberikan keleluasaan pada Pertamina dalam menjalankan bisnis.

    "Bagi mereka yang penting profit yang kita (Pertamina) share saat pembagian dividen," ujar Ignatius.

    Lebih lanjut, pendanaan yang berasal dari debt atau pinjaman baik dari bank-bank komersial atau bank pembangunan (development bank). Biasanya pendanaan dari bank pembangunan memiliki biaya pembayaran yang lebih rendah atau disebut dana murah.

    Ada juga skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU). Ignatius menyebut skema ini sangat dimungkinkan karena diatur oleh payung hukum legal. Swasta dapat bekerja sama membangun kilang dengan Pertamina sebagai penanggung jawab.


    "Sayangnya skema ini belum ada yang menggunakan padahal sangat dimungkinkan dan Pertamina bisa mengambil produknya," pungkasnya.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id