4 Strategi AP I Bertahan di Tengah Pandemi

    Suci Sedya Utami - 13 Mei 2020 14:46 WIB
    4 Strategi AP I Bertahan di Tengah Pandemi
    PT Angkasa Pura I (Persero) menetapkan sejumah strategi bisnis di tengah tekanan pandemi covid-19. Foto: Antara/M. Iqbal
    Jakarta: Pandemi covid-19 memukul industri penerbangan tidak terkecuali PT Angkasa Pura I (Persero) sebagai pengelola 15 bandara yang tersebar di Indonesia. Namun di sisi lain, AP I juga harus tetap mengoperasikan bandara-bandara yang ada secara terbatas. Bandara-bandara tersebut tidak diperbolehkan ada yang tutup.

    "Saya juga melihat beberapa airlines memiliki potensi untuk bangkrut. Namun hal-hal seperti itu harus diantisipasi," kata Direktur Utama AP I Faik Fahmi dalam virtual roundtable discussion, Rabu, 13 Mei 2020.

    Faik mengatakan telah mengantisipasi kemungkinan buruk dengan menyiapkan empat strategi inisiatif untuk bertahan di tengah pandemi.

    Pertama, melakukan risk assessment dengan identifikasi terhadap risiko strategis, keuangan, dan operasional. Upaya tersebut digunakan untuk menyusun strategi dan langkah teknis ke depannya.

    Kedua, membentuk crisis control center yang membantu leadership AP I untuk berkoordinasi dengan stakeholder yang ada dan melakukan monitoring terhadap service level agreement (SLA) pemenuhan kewajiban perseroan sebagai public service officer.

    Ketiga, survival strategy yakni mempersiapkan kondisi keuanga perusahaan untuk bertahan di 2020 dengan melakukan beberapa program kerja seperti simulasi cash flow, cost leadership, dan revenue enhancement.

    "Fokus kita dalam jangka pendek ini bagaimana kita mengelola cash flow kita. Bisa dibayangkan dengan kondisi traffic turun sampai 95 persen, pendapatan kita tinggal 20 persen, sementara biayanya harus kita manage," ujarnya.

    Faik mengatakan dari sisi strategi ini, AP I mencoba mengantisipasi penurunan pendapatan yang sangat signifikan dengan melakukan penyeimbangan terhadap beban. Ia bilang cash flow menjadi prioritas untuk menjamin agar AP bisa bertahan paling tidak hingga tiga bulan ke depan, bahkan cash flow dijaga hingga akhir 2020.

    Untuk menjaga cash flow maka dilakukan pengurangan biaya operasional atau operational expenditure (opex) hingga 32 persen, penundaan pembiayaan dan pembatalan belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga 39 persen, pengurangan luasan operasional bandara hingga 80 persen, pengurangan jam operasional bandara hingga 50 persen, pengurangan tenaga outsourcing hingga 50 persen, pengurangan biaya umum hingga 30 persen, penundaan biaya konsesi bandara di tahun ini dan relaksasi setoran pada negara berupa dividen hingga 100 persen.

    "Biaya non-essential pemotongannya paling besar di atas 70 persen, biaya kontributor dikurangi 20-85 persen seperti mengurangi penggunaan garbarata dari 10 jadi satu, biaya yang sifatnya essential pengurangannya sekitar 20 persen dan biaya terkait akselerator dikurangi 10-20 persen," papar Faik.

    Keempat, mengantisipasi kondisi new normal dengan membangun rebound strategy. Ia bilang menyiapkan lompatan pertumbuhan AP I di 2021 dengan program multi dimension performance improvement. Dampak dari strategi ini baru bisa dirasakan tahun depan, pada saat kondisi kembali normal.

    "Sebenarnya tahun ini periode di mana saya punya banyak waktu memperbaiki proses, karena saat kondisi normal kita disibukkan dengan aktivitas bisnis di luar, tapi internalnya banyak yang perlu diperbaiki. Dan sekarang ini periode yang sangat baik, diharapkan kalau kondisinya ini membaik kita mampu membuat lompatan. Jangan sampai virus hilang, potensi AP I juga ikut hilang," jelas Faik.

    Adapun akibat covid-19, traffic atau lalu lintas di bandara-bandara AP I turun hingga 95 persen pada Mei. Faik menuturkan traffic yang ada hanya tersisa lima persen dari kegiatan logistik yang masih beroperasi.

    Faik tidak menampik pemulihan di industri penerbangan akan lama. Bahkan berdasarkan survei yang ada, industri penerbangan tidak akan serta merta bangkit ketika krisis akibat pandemi covid-19 pulih. Sekitar 47 persen dari penduduk dunia masih akan menunggu waktu 1-2 bulan untuk memutuskan terbang. Bahkan ada yang sampai menunggu hingga enam bulan.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id