Gubernur BI Cerita Ganasnya Covid-19 di Sektor Keuangan

    Husen Miftahudin - 06 April 2020 21:34 WIB
    Gubernur BI Cerita Ganasnya Covid-19 di Sektor Keuangan
    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto : Medcom.
    Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menceritakan keganasan pandemi virus korona (covid-19) terhadap dampaknya di sektor keuangan. Mulai dari kepanikan investor global, kaburnya dana-dana asing yang ditanam di Indonesia, hingga anjloknya nilai tukar rupiah.

    Kepanikan investor di pasar keuangan global akibat merebaknya virus korona mulai terasa sejak akhir Januari 2020. Di Indonesia, kepanikan investor mulai terasa pada awal Maret semenjak kasus positif covid-19 mengalami peningkatan signifikan.

    "Dua hal ini, kepanikan investor global dan meningkatnya kasus positif (covid-19) di Indonesia selama Maret kemudian menimbulkan gelombang capital outflow dari Indonesia," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR secara virtual di Jakarta, Senin, 6 April 2020.

    Padahal sebelum covid-19 menyergap, pasar keuangan Indonesia justru kebanjiran modal-modal asing yang ditanam di berbagai instrumen portofolio. Pada periode 1-19 Januari 2020, pasar keuangan domestik diguyur masuknya dana-dana asing (capital outflow) dengan total sebanyak Rp22,85 triliun.

    Rinciannya, Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak Rp22,29 triliun dan saham sebesar Rp3,55 triliun. Sementara dana-dana asing di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan obligasi korporasi tercatat keluar (capital outflow), masing-masing sebanyak Rp2,30 triliun dan Rp690 miliar.

    Namun pada periode 20 Januari hingga 1 April 2020, dana asing di pasar keuangan dalam negeri ambyar. Para pemilik modal ramai-ramai menarik dananya sehingga mencatatkan total outflow sebesar Rp171,62 triliun.

    Rinciannya, SBI sebesar Rp1,03 triliun, SBN Rp157,37 triliun, dan saham sebanyak Rp13,26 triliun. Sedangkan instrumen portofolio obligasi korporasi tercatat inflow sekitar Rp40 miliar.

    "Dalam periode yang singkat ini keluar portofolio inflow dari Indoensia sebanyak Rp171,6 triliun. Ini terjadi pada minggu kedua Maret dan puncaknya terjadi pada minggu ketiga Maret," jelas Perry.

    Kondisi ini yang kemudian menyebabkan terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah. Namun bukan mata uang Garuda saja yang melempem, berbagai mata uang negara-negara di dunia pun mengalami hal yang serupa.

    "Dalam periode ini kalau kita bandingkan secara pint to pont, rupiah melemah 12,03 atau 9,3 persen dalam Maret dibandingkan Februari."

    Perry menegaskan, bank sentral tak lantas berdiam diri menyaksikan keganasan covid-19 memukul nilai tukar rupiah. Bank Indonesia dengan sigap memasang kuda-kuda dengan melakukan stabilitas nilai tukar rupiah baik di pasar spot, domestic non delivery forward (DNDF), maupun pembelian SBN dari pasar sekunder.

    Hasilnya, rupiah mulai menunjukkan ototnya sejak pekan keempat Maret 2020 dan diperdagangkan pada rentang Rp16.400 per USD hingga Rp16.500 per USD.

    Perry menekankan pentingnya langkah-langkah untuk memitigasi dampak covid-19. Langkahnya, dengan berkoordinasi antara bank sentral, pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk melakukan stabilisasi di makroekonomi dan sistem keuangan.

    "Yang harus kita waspadai adalah eskalasi dari covid, penanganan-penanganan di bidang kesehatan dan kemanusiaan, dampaknya terhadap sektor riil. Dan tentu saja, kita harus secara bersama melakukan langkah-langkah antisipasi untuk menjaga kondusifnya ekonomi dan sistem keuangan lebih baik," tutup Perry.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id