comscore

Kenaikan Harga Komoditas Pangan Pengaruhi Daya Beli Masyarakat

Annisa ayu artanti - 30 April 2022 13:30 WIB
Kenaikan Harga Komoditas Pangan Pengaruhi Daya Beli Masyarakat
Daging Sapi sudah naik dari awal tahun. Foto : MI.
Jakarta: Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai tingginya harga beberapa komoditas pangan yang sudah berlangsung sejak awal tahun berdampak pada daya beli masyarakat. Menurutnya, stabilisasi harga pangan harus dilakukan demi keterjangkauan kepada masyarakat.

“Kestabilan harga bukan lagi menjadi satu-satunya yang menentukan keterjangkauan masyarakat terhadap komoditas pangan. Pemerintah perlu memperhatikan daya beli yang menurun akibat pandemi covid-19,” kata Felippa dalam keterangan tertulis, Sabtu, 30 April 2022.
Ia menjelaskan meski rilis Badan Pusat Statistik menunjukkan angka kemiskinan periode September 2021 mengalami perbaikan dengan adanya penurunan sebesar 9,71 persen setelah setahun sebelumnya yang mencapai 10,19 persen. Namun pencapaian positif ini berpotensi menurun karena tingginya harga komoditas pangan.

"Pangan merupakan komponen bernilai signifikan dalam konsumsi rumah tangga, terlebih pada masyarakat berpenghasilan rendah, yang dapat mencapai 50 persen," jelasnya.

Selain itu, Indeks Bulanan Rumah Tangga (Bu RT) dari CIPS juga menunjukkan, harga minyak goreng di Jakarta pada Maret naik 32,18 persen menjadi Rp18.505 per liter dari Rp14.000 per liter pada Februari atau setara dengan kenaikan sebesar 39,69 persen dari Rp13.247 per liter dibandingkan Maret tahun lalu.

Akhirnya pemerintah menetapkan pelarangan ekspor crude palm oil (CPO) serta produk turunannya termasuk minyak goreng, setelah sebelumnya memberlakukan kenaikan besaran Domestic Market Obligation (DMO), Domestic Price Obligation (DPO) dan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Lalu, harga daging sapi juga naik sejak awal tahun. Data Indeks Bu RT menunjukkan, harga daging sapi di Jakarta pada Maret 2022 naik 9,27 persen dari Februari menjadi Rp153.700 per kg. Ada juga peningkatan 2,28 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan harga daging sapi itu berkaitan dengan kenaikan harga daging sapi dunia, kenaikan biaya distribusi, serta peningkatan permintaan jelang Ramadan. Supply daging sapi Indonesia masih didominasi impor, yaitu sebesar 30 persen berdasarkan data Kementerian Pertanian 2020, kenaikan harga daging sapi internasional juga berdampak pada kenaikan harga domestik.

Pada tahun 2020, impor daging sapi Indonesia didominasi Australia (47 persen), diikuti oleh India (34,18 persen), Amerika Serikat (8,74 persen), Selandia Baru (6,46 persen), dan lainnya (3,62 persen), berdasarkan data BPS 2021.

Dalam jangka panjang, dampak dari tingginya harga pangan itu dapat memengaruhi konsumsi nutrisi. Masyarakat cenderung memilih makanan yang mengenyangkan dengan harga yang lebih murah, tapi belum tentu mencukupi kebutuhan nutrisi yang diperlukan tubuh.

Menurutnya, proses dan prosedur perdagangan perlu ditingkatkan efisiensinya sehingga tidak memakan biaya dan waktu.

"Selain itu, kebijakan perdagangan harus dibarengi dengan kebijakan pertanian yang fokus pada peningkatan daya saing produsen dalam negeri. Faktor domestik yang menyebabkan harga tinggi harus diatasi melalui kebijakan seperti peningkatan penelitian dan pengembangan, akses ke input yang lebih murah, dan perbaikan infrastruktur,” pungkasnya.

(SAW)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id