Holding BUMN Pangan Berpotensi Hambat Investasi Pertanian

    Suci Sedya Utami - 20 Juli 2021 14:23 WIB
    Holding BUMN Pangan Berpotensi Hambat Investasi Pertanian
    Ilustrasi holding BUMN - - Foto: dok Kementerian BUMN



    Jakarta: Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) klaster pangan berpotensi menghambat masuknya investasi pertanian, serta mengurangi kompetisi pada sektor tersebut.

    Peneliti CIPS Indra Setiawan mengatakan keistimewaan dan kemudahan yang seringkali diterima oleh BUMN membuat investor berpikir panjang untuk berinvestasi di Indonesia.

     



    Hal ini tercermin dari tren investasi di sektor pertanian Indonesia yang masih tergolong rendah. Investasi asing di sektor ini misalnya, hanya sebesar tiga hingga tujuh persen dari total Penanaman Modal Asing (PMA) di Indonesia pada 2015 hingga 2019.

    Sebagian besar investasi pun masuk ke sektor kelapa sawit. Sedangkan untuk sektor pertanian lainnya, seperti tanaman pangan dan hortikultura, masih jauh lebih rendah. Padahal peningkatan investasi di sektor pertanian perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk pertanian Indonesia, diungkapkan

    Pemerintah memberikan BUMN suntikan modal, penunjukan langsung, serta kemudahan birokrasi, terutama dalam pembebasan dan akuisisi lahan. Keuntungan-keuntungan demikian tidak dapat dinikmati oleh investor swasta yang menyebabkan mereka enggan terlibat dalam proyek tersebut.

    "Rendahnya investasi dan keterlibatan swasta akibat dominasi BUMN telah terbukti di sektor infrastruktur di mana keterlibatan BUMN dalam pembangunan infrastruktur strategis semakin menguat sejak pemerintah menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai prioritas," kata Indra dalam keterangan resmi, Selasa, 20 Juli 2021.


    Pembentukan holding BUMN pangan juga dibayang-bayangi kekhawatiran akan kinerja BUMN yang dianggap tidak efisien selama ini. Contohnya adalah kerugian tujuh BUMN pada 2018 meskipun telah diberikan suntikan dana oleh pemerintah. Hal ini tentu saja menjadi beban fiskal bagi pemerintah yang saat ini tengah berfokus pada penanganan pandemi yang membutuhkan anggaran besar.

    "Rendahnya investasi di sektor pertanian akan berakibat, antara lain, pada terhambatnya upaya meningkatkan kemampuan manajerial di sektor pertanian. Mayoritas tenaga kerja di sektor pertanian Indonesia memiliki keterampilan rendah dan hanya sekitar dua persen lulusan universitas di Indonesia yang bekerja di sektor pertanian," tutur Indra.

    Padahal investasi juga membuka peluang pelatihan bagi petani maupun pekerja di sektor pertanian. Perusahaan yang melakukan investasi umumnya memberikan pelatihan yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pertanian, seperti pertanian berkelanjutan dan pertanian presisi.

    Terhambatnya investasi di sektor pertanian juga berpotensi menghambat perkembangan teknologi pertanian di Indonesia. Indonesia saat ini memerlukan teknologi pertanian yang mampu menekan ongkos produksi dan transaksi petani serta meningkatkan mutu pangan dan nutrisinya. Investasi merupakan salah satu jalan bagi transfer teknologi, terutama investasi asing dari negara-negara yang memiliki pertanian yang lebih maju dari Indonesia.

    CIPS pun merekomendasikan untuk mengurangi dampak negatif dominasi holding BUMN pangan di kemudian hari adalah, pembentukan holding BUMN holding pangan harus diikuti rencana reformasi BUMN. Perlu adanya rencana-rencana strategis untuk meningkatkan tata kelola perusahaan, seperti melalui Initial Public Offering (IPO) holding BUMN pangan. Melalui IPO, pengawasan publik dapat lebih ditingkatkan sehingga transparansi holding BUMN pangan akan semakin baik pula.


    "Holding BUMN pangan juga harus terbuka terhadap kompetisi pasar. Pemerintah perlu memberikan perlakuan yang setara antara holding BUMN ini dan pihak swasta yang hendak terlibat dalam sektor pangan dan pertanian. Hal ini akan mendorong lebih banyak sektor swasta untuk terlibat dalam sektor pangan dan pertanian sehingga peningkatan investasi dapat terus terjadi," pungkas dia.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id