Pemerintah Beri Pinjaman Tanah Kembangkan Koperasi Pangan

    Ilham wibowo - 30 Juni 2020 10:38 WIB
    Pemerintah Beri Pinjaman Tanah Kembangkan Koperasi Pangan
    Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Foto : Medcom.id.
    Jakarta: Pemerintah tengah merancang program pengembangan koperasi pangan yang melibatkan masyarakat setempat di sejumlah daerah. Tanah negara akan dipinjamkan hingga durasi 70 tahun untuk digarap maksimal menghasilkan produk pertanian, perkebunan dan peternakan.

    "Sekarang kami sedang fokus membuat pilot project untuk pembangunan koperasi pangan," kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam webinar yang diselenggarakan MarkPlus, Inc. secara virtual, Senin, 29 Juni 2020.

    Koperasi pangan tersebut rencananya bakal diintegrasikan dengan program bantuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Pinjaman tanah negara yang bisa digarap yakni seluas 2 ha per kepala keluarga (KK).  

    "Pinjaman kepada rakyat berupa tanah 2 ha per KK selama 35 tahun dan bisa diperpanjang 35 tahun lagi. Jadi rakyat sekarang dipinjami tanah sebanyak dua hektare selama 70 tahun," paparnya.

    Menurut Teten, pengembangan tanah garapan tersebut tidak diolah sendiri-sendiri melainkan secara konsolidasi bisnis. Harapannya proses produksi, hasil panen dan pemasaran bisa lebih maksimal.

    "Ini akan konsolidasi dalam skala bisnis misalnya 100-200 hektare. Kami kalau di Jawa sudah mapping dengan perhutani akan membuat koperasi pangan yang cukup besar yaitu untuk komoditas padi, jagung dan garam untuk substitusi impor," ungkapnya.

    Beragam pengembangan komoditas buah tropis juga sangat bisa diaplikasikan di program koperasi pangan. Selain itu, sapi perah dan beberapa hewan yang ternak juga dinilai potensial untuk mengisi pasar dalam negeri.

    "Koperasi buah segar, buah tropis kita mau mangga, manggis, durian itu di market luar negri itu cukup besar. Nah ini kita akan fokus kembangkan koperasi sektor pangan," ujarnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Teten menambahkan bahwa kehadiran koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM) saling melengkapi. Level bisnis keduanya juga bisa dinaikkan hingga multinasional seperti di Australia dan Selandia Baru yang usahanya fokus di sektor pangan.

    "Saya ingin koperasi dan UMKM jangan dikotomi, itu hanya jenis usaha dan ukuran jenis usaha. Banyak koperasi simpan pinjam (KSP) yang anggota dan nasabahnya itu justru UMKM," pungkasnya.




    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id