Keterlibatan Militer Tingkatkan Produksi Pangan Dinilai Penting

    Ilham wibowo - 25 Juni 2020 13:16 WIB
    Keterlibatan Militer Tingkatkan Produksi Pangan Dinilai Penting
    Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani
    Jakarta: Pemerintah berencana melibatkan militer untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan di masa mendatang. Berbagai tanaman dengan konsep food estate akan dikembangkan di kawasan Kalimantan Tengah (Kalteng).

    Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan) Kuntoro Boga Andri mengatakan bahwa lahan yang akan dikembangkan untuk food estate tersebut seluas 164.598 hektare (ha). Sinergi dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) telah disepakati dengan melibatkan unsur personel TNI yang akan membantu dalam proses produksi.

    "Keterlibatan Kementerian Pertahanan berperan dalam mengerahkan personel TNI. Keterlibatan ini sangat penting mengingat Babinsa TNI ada di setiap desa sehingga sangat membantu dapat percepatan olah tanah, tanam, serapan gabah dan memiliki fungsi pengawasan yang kuat di lapangan," kata Kuntoro melalui pesan tertulis, Kamis, 25 Juni 2020.

    Selain Kemhan, program pengembangan lumbung pangan tersebut juga bersinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dukungan akan diberikan dalam pembangunan irigasi primer dan sekunder, sementara irigasi tersier tetap menjadi tugas Kementan.

    "Kementan tetap sebagai penanggung jawab penuh pada aspek budi daya dari pra hingga usai panen dalam rangka peningkatan produksi baik secara kuantitas maupun kualitas bila perlu hingga bisa diekspor," tuturnya.

    Kuntoro memaparkan bahwa program food estate merupakan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mempersiapkan Provinsi Kalteng menjadi lumbung pangan. Berbeda dengan rice estate, pengembangan pangan akan dilakukan yakni mengintegrasikan antara tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan pada lahan yang sudah disediakan.

    "Bicara food estate bukan cuma padi dan jagung saja, kita buat konsep berbasis klaster. Jadi setiap wilayah harus dipetakan, kita klasterkan, ada klaster tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan di lahan yang sama. Jadi berbeda dengan rice estate yang komoditasnya hanya padi saja," paparnya.

    Adapun pengembangan lahan food estate di Kalteng terdiri dari lahan intensifikasi seluas 85.456 ha dan lahan ekstensifikasi seluas 79.142 ha. Tahap pertama pada 2020 akan dimulai dengan pengembangan lahan intensifikasi seluas 30 ribu ha sebagai model percontohan food estate modern berbasis korporasi petani.

    "Pengembangan ini dilakukan di kabupaten Kapuas seluas 20 ribu ha dan di kabupaten Pulang Pisau seluas 10 ribu ha," ucap Kuntoro.

    Lebih lanjut, Kuntoro menegaskan bahwa pengembangan lahan food estate tersebut bukan membuka kembali lahan eks pengembangan lahan gambut (PLG). Optimalisasi hasil tanam dilakukan melalui pemanfaatan lahan existing eks PLG dan non eks PLG untuk pangan.

    Lahan tersebut merupakan lahan rawa yang meliputi rawa pasang surut dan lebak yang mengandung dominan tanah mineral dibanding tanah gambut. Produktivitas padi pada lokasi ini diproyeksikan bisa mencapai 4-5 ton/ha dengan pengelolaan lahan ini secara modern.

    "Bagian selatan Pulang Pisau dan Kapuas umumnya lahan-lahan pasang surut tipe A atau lahan yang selalu tergenang, sehingga dengan manajemen air yang tepat, lahan ini bisa dimanfaatkan optimal dan tidak mengganggu jadwal tanam," pungkasnya.  
     



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id