Dongkrak Konsumsi EBT, Investasi Teknologi Perlu Ditingkatkan

    Ilham Pratama Putra - 31 Juli 2020 10:10 WIB
    Dongkrak Konsumsi EBT, Investasi Teknologi Perlu Ditingkatkan
    Asssociate Professor di King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi, Oki Muraza. Foto: IG Medcomid
    Jakarta: Ilmuwan Indonesia yang menjadi Asssociate Professor di King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi, Oki Muraza menyebut Indonesia harus lebih gencar berupaya meningkatkan pengggunaan energi hijau atau green energy. Butuh peningkatan investasi teknologi agar masyarakat dapat semakin mudah dan murah menggunakannya.

    Menurut Oki, angka bauran energi hijau di Indonesia masih tergolong rendah, di bawah 10 persen. "Kita perlu menggenjot itu (konsumsi) green energy menjadi 25 persen, energi yang kita gunakan adalah energi terbarukan di 2025. Sementara kita lumayan berat, energi bauran kita masih di bawah 10 persen saat ini," kata Oki dalam Live Instagram @medcom.id pada acara Ngobras bertema 'Green Energy untuk Indonesia', Rabu, 29 Juli 2020.

    Penggunaan energi hijau di Indonesia saat ini juga belum terlalu luas. "Sementara semakin tipis cadangan minyak bumi kita. Perlu upaya serius untuk menggenjot penggunaan energi baru terbarukan (EBT) itu," tambah dia.

    Selain dari sawit, dia juga meminta adanya kesadaran masyarakat untuk mengelola green energy secara pribadi. Misalnya memasang energi yang didapatkan dari matahari.

    "Indonesia ini punya potensi yang besar, kita banyak pohon dan matahari yang cukup. Mungkin kita pernah mendengar orang meng-install panel untuk menjadikan sinar matahari sebagi sumber listrik di atap kemudian dia mendapat diskon untuk listriknya. Artinya di Indonesia sudah mulai ke situ," lanjut Oki.

    Alumni SMA Taruna Nusantara itu juga berharap sosialisasi dari pemerintah terkait penggunaan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan ditingkatkan. Pemerintah diminta untuk banyak berinvestasi pada teknologi atau perangkat pendukung produksi energi hijau di Tanah Air.

    "Dari pemerintah sudah ada sebenarnya dengan adanya Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) itu sudah ada angka untuk lima tahun ke depan. Rencana menko perekonomian untuk mengejar itu sudah ada. Tapi itu ada harganya. Kita harus mampu membayar energi yang bersih itu saat kita ingin ke sana," jelasnya.

    Meski biaya untuk membangun energi hijau terkesan mahal, bagi Oki hal itu bukanlah satu hal yang merugikan negara. Disaat negara berinvestasi besar-besaran untuk energi, maka masyarakat akan lebih mudah dan murah mendapatkan energi tersebut.

    "Ketika kita masuk, kemudian teknologinya kita juga semakin menguasai, tentu harga turun. Ketika kita banyak investasi ya harga akan turun. Seberapa berani kita investasi maka akan semakin murah masyarakat mendapat energi itu," pungkasnya.


    (CEU)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id