Transisi Kenormalan Baru Harus Melalui Kajian Komprehensif

    Angga Bratadharma - 31 Mei 2020 16:35 WIB
    Transisi Kenormalan Baru Harus Melalui Kajian Komprehensif
    Iilustrasi. Foto: Medcom.id
    Depok: Transisi new normal atau kenormalan baru harus disiapkan secara teliti melalui kajian yang komprehensif dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing wilayah. Hal tersebut sangat penting dilakukan guna meminimalisir dampak negatif dari penerapan kenormalan baru itu, terutama dari aspek aktivitas perekonomian.

    "Saya kira implementasi new normal itu memang tidak bisa dihindari. Namun harus melalui kajian yang matang. Jangan grasak-grusuk karena ini menyangkut nyawa rakyat Indonesia," ujar Ketua Umum Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS) Center Hardjuno Wiwoho, dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 31 Mei 2020.

    Dirinya meminta penerapan kenormalan baru tidak terlalu terburu-buru, mengingat kasus covid-19 masih tinggi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan bermunculan klaster-klaster baru penyebaran covid-19 di Indonesia. Jika itu terjadi bukan tidak mungkin aktivitas perekonomian bisa kembali terganggu.

    Berdasarkan data Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tercatat jumlah kasus terkonfirmasi positif covid-19 per Jumat, 29 Mei, terdapat 25.216 orang. Dari angka tersebut sebanyak 17.204 orang dirawat. Sementara pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 6.492 orang  dan meninggal dunia 1.520 orang

    "Saya kira, hidup berdamai dengan covid-19 belum cocok diterapkan di Indonesia karena perkembangan kasusnya masih tinggi," jelasnya.

    Apalagi di Indonesia, ujarnya, jumlah penularan covid-19 masih masif. Karena itu, lanjutnya, memaksakan new normal covid-19 di Indonesia sama saja bunuh diri. "Yang saya takutkan, akan terjadi ledakan warga yang terpapar covid-19 ini sehingga perlu pertimbangan yang matang," tuturnya.

    Meski demikian, Hardjuno berharap agar transisi menuju tatanan baru harus berjalan dengan pengawasan ketat tanpa ketakutan. Untuk itu, pemerintah harus punya program menyukseskan kehidupan normal baru di Indonesia. Jika tidak, berpotensi mengalami kegagalan sosial di negeri ini.

    "Jangan sampai banyak yang angkat tangan dan berteriak, "terserah"," imbuhnya.

    Sementara itu, Kementerian Perdagangan berencana membuka aktivitas perdagangan secara bertahap pada masa new normal atau kenormalan baru. Namun demikian,  aktivitas perdagangan tersebut hanya untuk wilayah zona hijau.
     
    Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan terdapat 100 zona hijau yang tersebar di delapan provinsi yakni Aceh, Riau, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Jambi, DKI Jakarta, Bali, dan Kepulauan Riau. Saat ini daerah yang siap dibuka adalah Semarang, Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Barat yang berada di sekitar Jakarta dengan kontribusi ekonomi yang signifikan.
    "Hal itu berdasarkan hasil Analisis Trend (KSP) dan analisis per kelurahan yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat," kata Agus.

    Ia menjelaskan keputusan ini mempertimbangkan kondisi daerah dengan parameter tingkat penularan di wilayah masing-masing, tingkat kedisiplinan masyarakat dan pelaku usaha, serta kesiapan Tim Evaluasi dan Pengawasan yang dilaksanakan oleh Gugus Tugas Covid-19 pusat dan daerah serta pemerintah daerah.
     
    Adapun jenis aktivitas perdagangan yang akan mulai dibuka dalam normal baru, meliputi pasar rakyat dan toko swalayan seperti minimarket, supermarket, hypermarket, dan department store. Lalu, aktivitas restoran atau rumah makan, kafe, toko obat farmasi dan alat kesehatan, mal atau pusat perbelanjaan, restoran di rest area, salon spa, dan tempat hiburan.
     
    "Pembukaan aktivitas perdagangan itu disesuaikan dengan fasenya. Pada fase tertentu misalnya pusat perbelanjaan baru bisa dibuka,dengan jam operasional dan jumlah pengunjung yang dibatasi secara bergilir setiap tiga jam," pungkasnya.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id