3 Strategi Mentan Stabilkan Harga Kedelai

    M Iqbal Al Machmudi - 08 Januari 2021 10:07 WIB
    3 Strategi Mentan Stabilkan Harga Kedelai
    Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Foto: dok Kementan.
    Jakarta: Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo bersama stakeholder terkait melakukan gerakan stabilisasi pasokan dan harga kedelai dengan harga Rp8.500 per kilogram (kg) di tingkat pengrajin sehingga kebutuhan kedelai terpenuhi.

    Kegiatan tersebut dilakukan Mentan saat mengunjungi pengrajin tahu tempe di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat. Kunjungan tersebut dilakukan bersama Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) dan Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo).

    Mentan SYL mengatakan konsumsi kedelai impor cukup tinggi karena harganya jauh lebih murah dibandingkan kedelai lokal. Saat ini kenaikan harga terjadi secara global sehingga menimbulkan kendala di pasar lokal.

    "Kontraksi pada kedelai terjadi secara global. Selama ini tempe tahu yang kita konsumsi banyak menggunakan kedelai impor karena harganya lebih murah. Pasokan kita aman, namun memang harga naik karena negara produsen mengalami kendala," kata Syahrul, dikutip dari Mediaindonesia.com, Jumat, 8 Januari 2021.

    Laki-laki yang akrab disapa SYL tersebut menegaskan Kementan bersama dengan stakeholder saat ini bersama dalam menjaga stabilitas harga kedelai di tengah polemik kenaikan harga yang terjadi saat ini. Terdapat tiga agenda yang akan dilakukan Kementan untuk terus memantau pasokan dan harga kedelai dalam negeri.

    "Pertama agenda SOS yakni stabilisasi harga menjadi agenda 100 hari ke depan, pasokan tidak boleh ada yang terganggu sehingga ketersediaan harus dipastikan aman. Harga tidak boleh terlalu turun dan tidak boleh terlalu naik, khawatirnya konstraksi ini hanya sementara," ujar SYL.

    Kedua, agenda temporary yakni dalam 200 hari ke depan produktivitas lokal harus ditingkatkan. Ketiga, agenda panjang Indonesia bisa suplai kebutuhan kedelai secara mandiri sehingga saat negara lain mengalami kendala tidak berimbas di dalam negeri.

    "Masyarakat kita rata-rata pemakan tahu tempe jadi kedelai ini tidak boleh bersoal. Kita segera lakukan langkah konkret di lapangan sebagai upaya menstabilkan harga dulu. Mudah-mudahan harga stabil bukan hanya di Jakarta namun di Jawa, serta daerah lain juga," jelasnya.

    Selain itu, SYL pun mendorong pengrajin tahu tempe untuk menggunakan kedelai lokal pasalnya kualitas lebih bagus dibanding kedelai impor. Oleh karenanya, ia memfokuskan program 2021 ini termasuk dalam peningkatan produksi kedelai.

    "Kami siapkan pasokan kedelai lokal, produksi kita genjot. Kedelai kita pendek-pendek, manis dan disukai masyarakat sehingga ke depan dorong budidayanya. Sesuai arahan Presiden Jokowi, hal ini untuk penuhi kebutuhan pengrajin tahu tempe. Kita carikan jalan keluarnya agar harga tahu tempe dengan kedelai lokal harganya terjangkau," jelasnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id