Saham Perhotelan Ini Moncer di Tengah Pandemi

    Husen Miftahudin - 21 November 2020 15:00 WIB
    Saham Perhotelan Ini Moncer di Tengah Pandemi
    Ilustrasi hotel - - Shutterstock
    Jakarta: Bisnis perhotelan dan restoran menjadi salah satu sektor yang cukup tertekan oleh pandemi covid-19. Belum pulihnya pergerakan masyarakat di masa pandemi secara umum dan menurunnya angka kunjungan wisatawan secara khusus menyebabkan tingkat kunjungan ke hotel dan restoran masih rendah.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor akomodasi dan makan minum pada kuartal III-2020 masih mengalami pertumbuhan negatif, yaitu sebesar minus 11,86 persen. Namun demikian, angka ini mengalami sedikit perbaikan ketimbang data kuartal II-2020 yang mencapai minus 22,02 persen.

    "Hal ini wajar karena belum pulihnya kunjungan wisatawan yang menyebabkan tingkat kunjungan ke hotel dan restoran masih rendah. Beralihnya beragam kegiatan, seperti rapat, training, hingga seminar yang dahulu dilaksanakan di hotel, menjadi kegiatan yang bersifat virtual, juga menjadi salah satu penyebabnya," ungkap Data Analyst Tim Riset Lifepal.co.id Aldo Jonathan, Sabtu, 21 November 2020.

    Meskipun kebutuhan jasa hotel dan restoran menurun di kala pandemi, jelas Aldo, terdapat sejumlah emiten hotel yang pergerakan harga sahamnya justru di atas performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) maupun Indeks Trade, Services, Investment (indeks yang menaungi emiten-emiten perusahaan jasa perhotelan dan restoran).

    "Ada tiga emiten perhotelan dengan kinerja di atas IHSG dan Indeks Trade, Services, Investment. Mereka adalah PT Hotel Sahid Jaya International Tbk (SHID), PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE), dan PT Mas Murni Indonesia Tbk (MAMI)," paparnya.

    Aldo merinci Hotel Sahid Jaya International. Saham emiten yang didirikan pada 23 Mei 1969 ini terbilang moncer, meskipun kinerja bisnisnya masih terseok-seok di masa pandemi covid-19 ini.

    Berdasarkan laporan keuangan SHID, penjualan yang berhasil dibukukan perusahaan saat pandemi hanya sebesar Rp30,9 triliun per kuartal II-2020. Angka tersebut mengalami penurunan sebanyak 50,2 persen dibandingkan dengan posisi pada kuartal II-2019 yang berhasil meraup penjualan sebesar Rp62,2 triliun.

    Dari segi laba komprehensif, pada kuartal II-2020 SHID juga mencatat kerugian sebesar Rp22 triliun. Kerugian itu meningkat jika dibandingkan dengan kuartal II-2019 yang tercatat negatif Rp19 triliun.

    "Hal ini dikarenakan adanya penurunan signifikan pada penjualan SHID, dan tingginya beban usaha SHID," imbuhnya.

    Namun dari segi pergerakan harga dalam beberapa tahun terakhir, pergerakan harga saham SHID bakal terus moncer. "Pergerakan harga saham SHID akan selalu mengalahkan IHSG dan indeks Trade, Services, Investment," pungkas Aldo.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id