Kemenperin Siap Ambil Bagian Rebut Peluang RCEP

    Ilham wibowo - 21 Oktober 2020 09:12 WIB
    Kemenperin Siap Ambil Bagian Rebut Peluang RCEP
    Gedung Kementerian Perindustrian. FOTO: Setkab
    Jakarta: Implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) perlu dimanfaatkan pelaku industri Indonesia secara maksimal. Pasalnya, blok perdagangan bebas terbesar yang mencakup 40 persen populasi dunia itu bakal memberikan peluang peningkatan ekspor.

    “Mari kita bersama-sama memahami seluk-beluk RCEP ini, yang rencananya ditandatangani pada KTT RCEP di bulan November tahun ini,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Dody Widodo, melalui keterangan resminya, Rabu, 21 Oktober 2020.

    Dody menuturkan pelaku industri di Indonesia harus siap menghadapi berbagai tantangan dari implementasi RCEP. Misalnya, papar dia, potensi lonjakan impor, meningkatnya kompetisi atau persaingan dalam memperoleh pasar luar negeri baik dalam perdagangan barang dan jasa, maupun persaingan dalam menarik investasi.

    “Konsep RCEP merupakan inisiasi dari Indonesia pada saat Indonesia menjadi ketua ASEAN pada 2011 yang bertujuan untuk mengintegrasikan kemitraan ASEAN dengan keenam negara mitra yang sudah terbentuk sebelumnya,” papar Dody.

    Adapun perjanjian kerja sama yang sudah terbentuk tersebut, antara lain ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFTA), ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP), ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA), dan ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA).

    Menurut Dody, RCEP akan menjadi salah satu perjanjian perdagangan bebas regional terbesar di dunia. Meski tanpa India, perjanjian ini mencakup 29,6 persen penduduk dunia, kemudian 30,2 persen produk domestik bruto dunia, sekitar 27,4 persen perdagangan dunia, dan 29,8 persen Foreign Direct Investment (FDI) dunia.

    “Sedangkan jika India bergabung, maka perjanjian ini akan mencakup 47,5 persen penduduk dunia, sebesar 33,5 persen produk domestik bruto dunia, sekitar 29,5 persen perdagangan dunia, dan 33,7 persen FDI dunia,” ujarnya.

    Menurut Dody, posisi Indonesia dalam penerapan RCEP dapat menjadi strategis. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator, antara lain ekspor Indonesia ke RCEP pada 2019 mewakili 61,65 persen atau USD95 miliar dari total ekspor Indonesia ke dunia. Selanjutnya, investasi dari RCEP pada tahun 2019 mencapai 66,59 persen atau USD19 miliar dari total FDI.

    “Perlu kita genjot ekspor produk industri untuk meningkatkan performa perdagangan, sehingga tidak mengalami defisit neraca perdagangan. Dengan begitu, Indonesia bisa mengejar ketertinggalan dari negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Thailand, Vietnam maupun Singapura,” pungkasnya.
     

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id