comscore

Lakukan Transisi Energi, Adaro Energy Fokus ke PLTS dan PLTA

Achmad Zulfikar Fazli - 06 April 2022 17:57 WIB
Lakukan Transisi Energi, Adaro Energy Fokus ke PLTS dan PLTA
CEO PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir (kiri). Dok. Istimewa
Jakarta: PT Adaro Energy Tbk akan mulai melakukan transisi energi dari fosil ke terbarukan. Dalam proses transisi, Adaro akan fokus ke pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

“Ini ada dua opportunity besar, negeri ini mendapat anugerah Tuhan, yaitu sinar matahari yang berlimpah, tapi energi solar tidak bisa 24 jam jadi mesti dikombinasikan dengan hydro, gas, batu bara jadi mixed energy,” kata CEO PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir saat berbincang dengan Co-Founder & CEO Katadata Metta Dharmasaputra yang ditayangkan pada event IDE Katadata 2022, Rabu, 6 April 2022.
Pria yang akrab disapa Boy Thohir itu menyampaikan PT Adaro Energy sudah mempunyai PLTS dengan skala kecil di Kalimantan Selatan. Pihaknya akan mengembangkan PLTS lainnya di Batam, Bintan, dan Kalimantan Utara.

“Adaro juga harus bertransformasi yang tadinya coal related businesses, kita harus ikuti kondisi zaman. Jadi kita harus transformasi dari based on batu bara, saya mau ke renewable energy. Dalam visi saya, itu akan lebih proaktif ke PLTA,” kata Boy.

Boy menambahkan Indonesia memiliki sumber daya yang besar untuk mengembangkan PLTA. Dia juga punya lahan sawit yang luas di Kalimantan Utara untuk dikembangkan menjadi renewable energy.

Boy menjelaskan pihaknya akan mengembangkan hydro dan industrial estate, serta turunannya di Kalimantan Utara. Proyek ini tidak bisa selesai dalam waktu 1-2 tahun.

Menurut Boy, perlu waktu 10-15 tahun untuk merampungkan perjalanan dari batu bara menjadi energi terbarukan. Pasalnya, melakukan transisi energi tidak bisa dilakukan seperti membalikkan telapak tangan.

“Kita tidak bisa bergantung hanya kepada satu sumber energi, itu akan sangat berbahaya. Jadi ke depan menurut saya yang akan terjadi adalah mixed energy. Karena kalau tergantung kepada satu sumber energi dan terjadi disrupsi maka akan kolaps,” jelas Boy.

Boy mengatakan pihaknya juga sudah masuk ke industri aluminium dengan membangun Green Aluminium Project di Kalimantan Utara. Hal ini dilakukan dengan target semua bahan baku untuk kebutuhan mobil listrik akan dibuat di Indonesia.

Baca: Bangun Smelter Aluminium, Adaro Teken Komitmen Investasi USD728 Juta

Dia menyampaikan Indonesia mempunyai kandungan mineral berlimpah, seperti aluminium dan nikel, yang merupakan bahan baku baterai mobil listrik. Adaro akan memproduksi aluminium yang ramah lingkungan dan mempunyai nilai jual lebih mahal daripada aluminium biasa.

“Saya yakin Indonesia akan punya peranan besar dalam perkembangan industri mobil listrik di masa yang akan datang,” ujar Boy.

(AZF)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id